Verification: a25133a91a4eb45a

TANTE VINA NGENTOT DI FITNES SAMPAI GYM-NYA JADI KOLAM

TANTE VINA NGENTOT DI FITNES SAMPAI GYM-NYA JADI KOLAM

TANTE VINA NGENTOT DI FITNES SAMPAI GYM-NYA JADI KOLAM

Namaku Gio, 23 tahun, personal trainer di gym premium “Elite Fit” di Senayan—tempat langganan orang-orang kaya Jakarta. Memberku banyak, tapi yang paling aku tunggu tiap minggu cuma satu: Tante Vina.

38 tahun.
Janda kaya.
Suami mantan, pengusaha properti yang sekarang tinggal di Singapura sama selingkuhannya.
Dua anak sudah kuliah di luar negeri.
Tubuhnya? Bikin trainer lain iri. 165 cm, 53 kg, six-pack halus terlihat kalau dia angkat sport bra, bokong bulat keras hasil squat 150 kg, dada 34D kencang (dia jujur bilang operasi, tapi hasilnya sempurna), kulit tan eksotis, rambut hitam panjang selalu dicepol tinggi saat olahraga. Aroma parfumnya mahal—campuran oud dan vanila—selalu nempel di hidungku berjam-jam setelah sesi selesai.

Kami mulai biasa aja.

Dia daftar kelas GRIT sama Reformer Pilates tiap Selasa-Kamis jam 06.00–08.00 pagi. Aku jadi trainer pribadinya karena dia minta “extra attention”. Awalnya beneran olahraga—koreksi squat, bantu stretch, motivasi. Tapi tiap sesi dia selalu pakai sport bra paling ketat dan legging paling tipis yang ada—camel toe-nya jelas banget, kadang aku harus pura-pura lihat lantai biar nggak ketahuan ngeliatin.

Satu Selasa pagi, gym sewa khusus buat dia (dia bayar double). Semua member lain keluar jam 7.45. Tinggal kami berdua di studio reformer yang luas, cermin besar, AC dingin, musik EDM pelan.

Dia pakai sport bra merah marun ketat banget dan legging hitam super tipis—bisa lihat garis g-string-nya. Keringat menetes dari lehernya ke belahan dadanya.

“Gio… hari ini tante mau full body private. Bantu tante stretch… semua bagian.”

Nada suaranya sudah serak, mata genit.

Aku mulai dari hamstring stretch—dia telentang di reformer bed, kaki aku angkat tinggi-tinggi. Legging-nya ketat banget, aku bisa lihat bibir vaginanya membesar di balik kain. Dia sengaja buka kaki lebih lebar, napasnya cepat.

“Gio… lebih dalam dong…”

Aku tarik kakinya lebih tinggi—selangkanganku nempel di bokongnya. Dia dorong bokongnya ke depan—langsung nempel di penisku yang sudah keras dari tadi.

Dia nengok, tersenyum jahat.

“Wah… ada yang ikut olahraga juga nih…”

Dia bangun, tarik aku ke sudut studio yang ada matras tebal dan cermin besar dari lantai sampai langit-langit. Langsung cium aku ganas—lidahnya masuk dalam-dalam, gigit bibir bawahku, napasnya panas.

Tangan dia masuk ke celana trainingku, remas penisku.

“Gila… gede banget… tante udah lama penasaran…”

Dia jongkok, tarik celanaku sampai lutut, langsung deep throat—dalam sekali tanpa ragu, tenggorokannya terlatih banget. Dia naik-turun cepat, mata menatapku, air liurnya menetes ke lantai karet gym. Aku pegang cepolannya, dorong kepalanya lebih dalam.

Dia berhenti sebelum aku keluar, berdiri, tarik sport bra-nya lepas—payudaranya terbebas, besar kencang, puting cokelat muda sudah sangat keras. Lalu dia sobek legging-nya sendiri di bagian selangkangan—bunyi “srett!” keras.

“Masuk sekarang.”

Aku dorong dia ke reformer bed—dia telentang, kaki di pegangan besi, posisi seperti pas pilates. Aku masuk satu dorongan sampai habis—dia mengerang keras, badannya melengkung, tangan memegang tali reformer kuat-kuat.

“Gila… ketat banget… gede… enak…”

Aku pompa cepat—reformer bed bergoyang, bunyi logam berderit keras. Keringat dia menetes ke matras. Aku tarik cepolannya, dia semakin liar.

Kami pindah ke semua alat—semua jadi alat bercinta:

  1. Treadmill—dia lari pelan 6 km/h, aku dari belakang sambil pegang pinggul, masuk dalam-dalam tiap langkah
  2. Smith machine—dia tarik barbell kosong, aku dari belakang sambil tarik rambutnya
  3. Cable crossover—dia tarik kabel, aku masuk dari belakang, payudaranya bergoyang liar
  4. Leg press—dia duduk di mesin, kaki terbuka lebar, aku masuk sambil dia dorong beban 100 kg
  5. Battle rope—dia pegang tali, aku dari belakang sambil dia ayun-ayun tali keras
  6. Yoga ball—dia duduk di atas bola besar, aku berdiri, dia naik-turun sambil bola bergoyang-goyang
  7. Sauna room—dia telanjang di bangku kayu, aku masuk sambil uap panas 80 derajat
  8. Shower room—dia menempel di dinding ubin, air panas mengalir, aku masuk dari belakang sambil pegang lehernya pelan
  9. Cermin besar—dia menempel tangan ke cermin, aku dari belakang, kami lihat pantulan tubuh basah keringat dan cairan

Dia orgasme berkali-kali—yang paling parah pas aku angkat dia di pull-up bar, tangannya diikat resistance band, kakinya melingkar di pinggangku, aku pompa sambil berdiri. Dia squirt keras—cairannya nyemprot ke lantai karet gym, bikin genangan.

Terakhir di matras tengah studio—missionary ganas, kaki di bahuku, aku pompa cepat sambil cium lehernya. Dia cakar punggungku, gigit bahuku.

“Di dalam… isi tante… semua…”

Aku keluar di dalam—banyak sekali, sampai tumpah ke matras. Dia orgasme lagi, badannya kejang hebat, kaki gemetar.

Kami ambruk di matras, napas tersengal, badan basah keringat, cairan, dan air mata kenikmatan.

Setelah itu setiap Selasa dan Kamis pagi gym disewa khusus 05.30–08.00—katanya buat “program intensif”.

Kami punya rutinitas gila:

  • Senin malam dia kirim foto selfie di cermin gym pakai lingerie olahraga, caption “Besok siap dihukum trainer ya”
  • Selama sesi dia pakai outfit berbeda—hari ini bodysuit zipper, besok sport bra sobek, besok lagi cuma thong dan nipple tape
  • Kami rekam sendiri pakai GoPro—dia suka nonton ulang sambil colplay di rumah
  • Kadang dia bawa mainan—vibrator, plug, tali, bahkan remote control yang dia pegang sambil aku masuk

Satu pagi yang paling gila:

Dia datang jam 05.15—pakai trench coat panjang. Begitu pintu gym ditutup, dia buka coat—di dalamnya cuma high heels merah, choker kulit, dan butt plug berlian.

Dia langsung jongkok, blowjob ganas sambil mata menatapku. Lalu dia bawa aku ke smith machine, minta diikat tangannya ke barbell pakai tali gym.

Aku mainin dia pakai vibrator besar selama 45 menit—dia menggeliat, merintih, squirt berkali-kali sampai lantai basah seperti kolam kecil.

Baru aku masuk—keras, ganas, dari belakang sambil tarik choker-nya. Lalu aku lepas ikatannya, angkat dia ke bench press, kaki di bahuku, pompa cepat sambil dia cakar dada aku.

Terakhir di cermin besar—dia menempel tangan dan dada ke cermin, aku dari belakang, kami lihat pantulan tubuh basah keringat, rambut awut-awutan, wajah penuh nafsu.

Dia orgasme sampai nangis, cairannya nyemprot ke cermin.

Aku keluar di dalam lagi—banyak sekali, sampai tumpah ke lantai.

Kami ambruk di matras, badan gemetar, napas tersengal.

Setelah itu gym selalu wangi keringat, parfum mahal, dan seks tiap Selasa dan Kamis pagi.

Dan setiap selesai sesi, dia selalu cium keningku, bisik manja:

“Trainer terbaik tante… besok lagi ya, lebih keras.”

Aku selalu jawab:

“Siap, Buah hati tante.”

Karena Tante Vina… bukan cuma member.

Dia adalah alasan aku bangun jam 4 pagi dengan senyum.

Dan gym itu… sekarang punya kolam renang pribadi setiap Selasa dan Kamis pagi.

TAMAT. 💦🏋️‍♀️🔥

Leave a Comment