Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Rika dan Kamar 707

Tante Rika dan Kamar 707

Aku baru lulus kuliah, 22 tahun, dan mendapat pekerjaan pertama di hotel bintang lima di kawasan SCBD Jakarta. Namanya Grand Mahakam. Shift malam pertamaku jatuh di hari Jumat, dan aku ditugaskan lantai eksekutif, lantai 7.

Malam itu hujan deras. Sekitar pukul 01.20, housekeeping menghubungi front desk: ada tamu di kamar 707 yang minta extra towel dan champagne, tapi minta diantarkan oleh “staff pria yang masih muda dan ganteng saja”. Supervisor cuma nyengir dan menunjukku.

“Langsung ke 707 ya, Mas Ardi. Tamunya… spesial.”

Aku naik lift sambil membawa ember es, sebotol Moët, dan tiga handuk putih tebal. Pintu 707 terbuka sebelum aku mengetuk.

Di depanku berdiri perempuan berusia akhir 30-an, memakai kimono mandi hotel warna hitam yang terbuka sampai dada. Rambutnya panjang bergelombang, bibirnya merah tebal, dan parfumnya langsung membuat kepalaku pening. Yang paling gila: aku kenal wajah itu.

“Tante Rika…?” suaraku serak.

Dia tersenyum lebar, matanya berbinar.
“Ardi Pratama… dunia sempit banget ya?”

Tante Rika adalah sepupu jauh Mama, tapi sejak kecil aku memanggilnya Tante karena beda usia hampir 17 tahun. Terakhir ketemu waktu aku SMP, dan saat itu pun dia sudah cantik luar biasa. Sekarang? Dia seperti bintang film dewasa yang hidup.

“Masuk dulu, Di. Jangan bengong di depan pintu,” katanya sambil menarikku masuk.

Kamar suite-nya luas, lampu dimmed kuning keemasan, dan di ranjang king-size sudah berantakan—bantal berserakan, ada bra merah dan stoking hitam tergeletak. Di meja ada dua gelas wine yang sudah kosong setengah.

“Sendirian, Tan?” tanyaku sambil berusaha tenang.

“Iya. Suami Tante lagi di Singapur. Tante bosan, minta temen ngobrol,” jawabnya santai sambil membuka tali kimono-nya sedikit lagi sampai aku bisa melihat seluruh lekuk dadanya yang masih kencang banget untuk ukuran ibu satu anak.

Kami ngobrol. Awalnya biasa: kuliahku, pekerjaanku, perceraiannya yang ternyata sudah resmi setahun lalu. Tapi semakin malam, semakin banyak champagne yang kami habiskan, semakin dekat dia duduk di sofa bersamaku.

“Ardi masih perjaka nggak?” tanya Tante Rika tiba-tiba sambil memandangku lurus.

Aku gelagapan. “Ngg… nggak, Tan. Sudah pernah.”

“Berapa cewek?”

“Dua.”

Tante tertawa pelan, lalu tiba-tiba naik duduk di pangkuanku—posisi straddle. Kimono-nya terbuka lebar sekarang, dan aku bisa merasakan dia tidak memakai apa-apa di bawah.

“Tante mau jadi yang ketiga, boleh?”

Aku bahkan belum sempat jawab, bibirnya sudah menempel di bibirku. Ciumannya ganas, lidahnya langsung masuk, tangannya sudah membuka kancing seragamku satu per satu. Dalam hitungan detik, aku sudah telanjang dada dan Tante Rika sudah berlutut di depanku, menarik resleting celanaku.

“Gila… gede banget ponakan Tante,” bisiknya sambil menatapku penuh nafsu.

Dia mulai mengoral dengan teknik yang… ya Tuhan, aku hampir pingsan di menit pertama. Dia bisa deep throat tanpa mual, lidahnya berputar-putar di ujung, tangannya memainkan bawahnya dengan sempurna. Aku cuma bisa mengerang dan memegang rambutnya yang harum.

Tapi Tante Rika tidak mau aku keluar dulu. Dia bangun, menarikku ke ranjang, lalu berbaring telentang sambil membuka kakinya lebar-lebar.

“Ayo Di… masukkin. Tante udah basah dari tadi.”

Aku tidak perlu disuruh dua kali. Saat aku masuk, Tante Rika langsung mengerang keras dan mencengkeram sprei. Dia ketat sekali, seperti belum pernah melahirkan. Kami langsung bercinta dengan ritme cepat dan keras—ranjang hotel itu bergoyang-goyang sampai bunyi keras.

Kami ganti posisi berkali-kali.
Doggy di depan cermin besar—aku bisa melihat wajah Tante yang penuh kenikmatan setiap kali aku menghantam dalam-dalam.
Cowgirl—dia naik di atasku sambil memilin putingnya sendiri dan menggoyang pinggulnya seperti penari profesional.
Standing—Tante memeluk leherku, kaki kirinya diangkat ke pinggangku, kami bercinta sambil berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap kota Jakarta yang masih hujan.

Puncaknya adalah saat Tante Rika memintaku mengambil ice bucket yang masih penuh es batu.

“Mainin Tante pake es, Di…”

Aku mengambil satu es batu, menggesekkannya pelan di putingnya—dia menggigil dan mengerang keras. Lalu aku turun, membuka pahanya lagi, dan memasukkan es batu kecil ke dalam vaginanya. Reaksinya luar biasa. Dia orgasme hebat sambil menjerit namaku, cairan hangat dan air es bercampur mengalir ke kasur.

Akhirnya aku tidak tahan lagi. Tante Rika berlutut di depanku lagi, meminta aku keluar di wajah dan dadanya.

“Kasih Tante susu ponakan yang banyak ya…”

Aku meledak hebat—mungkin yang terbanyak dalam hidupku. Wajah cantik Tante Rika, dada, dan lidahnya penuh dengan cairanku. Dia malah menjilatnya pelan sambil tersenyum puas.

Pagi harinya, jam 6 pagi, aku harus turun untuk serah terima shift. Tante Rika masih tidur telanjang di ranjang yang sudah basah total. Sebelum pergi, dia menarikku untuk ciuman terakhir.

“Setiap Tante menginap di Grand Mahakam, kamu wajib antar champagne ke 707, ngerti?”

Aku mengangguk lemas.

Sejak itu, setiap Tante Rika datang ke Jakarta—entah untuk bisnis atau cuma shoping—dia selalu booking kamar 707. Dan setiap kali resepsionis melihat nama “Rika Andriani” di sistem, mereka langsung tersenyum dan memanggilku.

Kamar 707 sekarang punya nama lain di antara staff malam:
“Kamar Tante Rika”.

Dan aku? Aku tidak pernah menolak tugas malam lagi.
Selamanya.

Leave a Comment