Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Lisa dan Kolam Renang Komplek yang Kosong

Tante Lisa dan Kolam Renang Komplek yang Kosong

Tante Lisa dan Kolam Renang Komplek yang Kosong

Komplek kita punya kolam renang umum yang tutup jam 10 malam. Lampunya dimatiin, gerbangnya dikunci gembok kecil, tapi anak-anak komplek tahu: kalau naik lewat pagar samping dekat pohon kamboja, gemboknya cuma gaya doang.

Malam itu aku lagi begadang main game di kamar, jam 00:47, tiba-tiba dapat WA dari nomor yang nggak aku save.

“Rey, kamu masih bangun? Kolam renang sepi banget nih… tante lagi sendirian, takut gelap. Temeni tante berenang yuk? 😘
– Tante Lisa (rumah hijau pojok)”

Tante Lisa. Usia 41, cerai tiga tahun, tubuh masih kayak ABG: perut rata, bokong bulat kencang karena tiap hari zumba, payudara 34D yang selalu jadi bahan obrolan ibu-ibu komplek. Selama ini cuma senyum-senyum genit tiap ketemu di pos satpam. Tiba-tiba ngajak malam-malam gini?

Aku langsung matiin laptop, ganti celana pendek sama kaos tipis, bawa handuk kecil doang, keluar lelet biar ortu nggak bangun.

Sampai kolam renang, lampu memang mati semua, cuma cahaya bulan sama lampu taman samar-samar. Tante Lisa sudah ada di pinggir kolam, pakai bikini merah marun yang… ya Tuhan, tali sampingnya cuma seutas benang. Payudaranya hampir tumpah keluar dari cup-nya, dan bagian bawahnya ketat banget sampai bentuk bibir vaginanya kelihatan samar.

“Dateng juga ponakan tante yang paling ganteng,” katanya sambil nyanyi kecil, suaranya manja banget. Dia langsung masuk ke air sampai pinggang, lalu melambai. “Ayo masuk, airnya hangat.”

Aku turun pelan. Begitu dekat, dia langsung tempel. Tubuhnya dingin karena air, tapi panas di bagian yang penting. Dia peluk pinggangku dari depan, payudaranya menempel keras ke dadaku.

“Selama ini tiap tante zumba di teras, kamu suka ngintip dari jendela kamar ya?” bisiknya sambil nyengir. “Tante tahu kok. Makanya tante sengaja pake legging ketat yang sobek di selangkangan.”

Aku cuma bisa nyengir kaku. Penis aku langsung ngaceng di balik celana renang.

Tante Lisa merem mepet lagi, tangannya langsung masuk ke dalam celanaku, pegang batangku yang sudah keras banget.

“Gede juga ternyata… tante kira cuma omongan anak-anak komplek doang,” katanya sambil mengocok pelan di bawah air. “Mau tante isep di sini?”

Tanpa nunggu jawaban, dia sudah menyelam. Air cuma sepinggang, jadi bokongnya nongol di permukaan, bikini merahnya masuk ke belahan pantat. Aku merasakan mulutnya langsung menelan seluruh penisku sampai pangkal. Hangatnya mulutnya kontras banget sama air kolam yang sejuk. Dia naik-turun kepalanya di bawah air, sesekali muncul buat ambil napas, rambut basah menempel di wajahnya, makin seksi.

Aku nggak tahan lama. Baru dua menit aku sudah mau keluar.

“Tahan dulu,” perintahnya sambil naik ke permukaan. Dia naik ke pinggir kolam, duduk di bibir kolam, buka sendiri tali bikini atasnya. Payudara besar dengan puting cokelat muda langsung terbebas, bergoyang pelan tiap dia tarik napas.

“Naik sini, gantian kamu jilat tante.”

Aku langsung naik, kepala aku di antara pahanya yang terbuka lebar. Aku tarik bikini bawahnya ke samping, langsung jum di klitorisnya yang sudah bengkak. Tante Lisa memegang kepalaku erat, pinggulnya naik-turun mengikuti lidahku. Bau klorin bercampur bau khas wanita dewasa bikin aku gila.

“Masukin jari… dua… tiga…” pintanya.

Aku masukin tiga jari sekaligus sambil tetap jilat. Tante langsung orgasme pertama, cairannya banyak banget sampai mengalir ke lantai keramik kolam renang.

Dia tarik aku berdiri, lalu dorong aku sampai punggungku ke dinding kolam. Dia naik ke pangkuanku, posisi berdiri di air, kaki melingkar di pinggangku. Dengan satu gerakan dia arahkan penisku masuk ke dalamnya. Kami berdua mengerang bersamaan.

Air kolam bergetar tiap dia naik-turun. Payudaranya bergoyang liar tepat di depan wajahku, aku gigit putingnya bergantian. Tante Lisa sudah nggak peduli suara, erangannya keras banget memantul di dinding kolam yang sepi.

“Rey… lebih keras… tante mau dihajar di kolam renang komplek… biar besok ibu-ibu pada iri…” katanya sambil tertawa nakal.

Aku pegang bokongnya kuat-kuat, bantu dia naik-turun lebih cepat. Air kolam berdesir keras sampai nyiprat ke lantai. Kami berdua sudah basah kuyup, entah karena air kolam atau keringat dan cairan kami sendiri.

“Aku mau keluar, tan…” aku mau cabut, tapi dia malah kunci pinggulku dengan kakinya.

“Di dalam… isi tante… tante udah lama nggak diisi…” jeritnya.

Satu detik kemudian aku meledak di dalamnya. Rasanya sperma aku nggak berhenti keluar. Tante Lisa juga orgasme lagi, tubuhnya kejang hebat sampai hampir jatuh ke air kalau aku nggak pegang erat.

Kami berdua ambruk di pinggir kolam, napas ngos-ngosan. Bulan masih terang di atas kami.

Tante Lisa cium bibirku pelan, lalu bisik,

“Besok malam jam segini lagi ya… tante bawa bikini yang lebih nakal. Yang tali sampingnya cuma ikat pita.”

Aku cuma bisa nyengir sambil peluk dia erat.

Sejak malam itu, tiap lampu kolam renang komplek mati jam 10 malam… anak-anak komplek tahu ada yang “berenang” lagi. Tapi nggak ada yang berani buka suara.

Karena yang berenang… Tante Lisa sama aku.

Lanjutan: “Satpam Pak Slamet Ikut Gabung – Kolam Renang Jadi Tempat Tiga Orang”

Dua minggu kami rutin “berenang” tiap malam Senin, Rabu, Jumat jam 1 pagi. Tante Lisa makin gila: kadang pakai bikini glow in the dark, kadang cuma pakai handuk doang yang sengaja dilepas begitu aku datang. Aku sudah hafal setiap inci tubuhnya, dari tahi lalat di bawah payudara kiri sampai cara dia menggigit bibir bawah pas mau orgasme.

Malam itu lagi-lagi hujan gerimis kecil. Kolam renang sepi banget, cuma suara air hujan sama katak. Kami sudah dalam posisi favorit: Tante Lisa nungging di tangga kolam bagian dangkal, aku genit dari belakang sambil pegang rambutnya. Dia lagi teriak-teriak kecil karena aku tarik rambutnya agak keras (dia suka kasar sekarang).

Tiba-tiba…

Sentrum lampu senter nyala tepat ke arah kami.

“SIAPA DI SANA?!”

Suara Pak Slamet, satpam komplek yang biasanya tidur di pos. Jantungku langsung jatuh. Tante Lisa malah nggak panik, cuma menoleh sambil tetap posisi nungging, bokongnya masih terangkat tinggi, penisku masih di dalam dia.

“Pak Slamet… malam ya…” sapa Tante Lisa santai, suaranya masih ngos-ngosan. “Lagi olahraga nih sama ponakan tante.”

Aku mau cabut buru-buru, tapi Tante Lisa malah dorong bokongnya ke belakang biar aku tetap masuk.

Pak Slamet mendekat pelan. Umurnya sekitar 50-an, badannya masih tegap, brewokan, seragamnya basah kena hujan. Lampu senternya turun dari wajah kami… ke tubuh telanjang Tante Lisa… lalu ke penis aku yang masih setengah masuk ke vagina tante.

Dia cuma diam beberapa detik. Lalu… matiin senter.

“Bu Lisa… sudah berkali-kali saya lihat kalian dari jauh. Saya pura-pura nggak tahu,” suaranya pelan, tapi berat. “Tapi malam ini… boleh ikut?”

Tante Lisa tertawa kecil, malah goyang bokongnya pelan biar aku tetap keras di dalam dia.

“Boleh dong, Pak. Tapi Pak Slamet harus janji nggak lapor ke RT ya…” katanya manja.

Pak Slamet langsung buka seragamnya satu per satu. Badannya masih bugar, dada bidang penuh bulu, dan… penisnya yang keluar dari celana dalam langsung berdiri tegak. Lebih panjang dari aku, tebal, urat-uratnya menonjol. Tante Lisa melongo.

“Ya Tuhan… Pak Slamet nyanyi sembunyiin monster selama ini?”

Pak Slamet cuma nyengir, lalu masuk ke kolam tanpa suara. Dia berdiri di depan Tante Lisa yang masih posisi doggy. Tante Lisa langsung ngerti, buka mulutnya lebar-lebar, lalu mulai mengisap penis Pak Slamet dengan lahap sambil aku terus genit dari belakang.

Kolam renang jadi penuh suara basah: bunyi kocokan aku dari belakang, bunyi Tante Lisa menghisap Pak Slamet, dan erangan kami bertiga yang bercampur dengan suara hujan.

Beberapa menit kemudian Tante Lisa sudah orgasme dua kali, cairannya nyiprat ke air kolam. Pak Slamet tarik kepalanya pelan, lalu bilang,

“Gantian posisi, Bu Lisa naik ke atas anak ini.”

Aku selonjor di tangga kolam, Tante Lisa naik ke pangkuanku, masuk lagi dengan posisi cowgirl. Pak Slamet berdiri di depan kami, penisnya masuk ke mulut Tante Lisa lagi. Kami bertiga nyambung sempurna: aku dorong dari bawah, Tante Lisa naik-turun sambil mengisap Pak Slamet.

Tante Lisa tiba-tiba cabut penis Pak Slamet dari mulutnya, lalu bisik,

“Pak… masuk bareng dari belakang… tante mau diisi dua-dua…”

Aku kaget, tapi Tante Lisa sudah siap. Dia angkat bokongnya sedikit, aku tetap di dalam vagina, lalu Pak Slamet… pelan-pelan masukin penisnya ke lubang yang sama. Kami berdua masuk bareng ke dalam Tante Lisa.

Tante Lisa langsung teriak keras, badannya kejang hebat, matanya terbelalak. Tapi dia malah dorong bokongnya ke belakang biar kami masuk lebih dalam lagi.

“Pelan-pelan dulu… nanti cepet…” pintanya dengan suara gemetar.

Kami mulai gerak pelan, bergantian. Kalau aku dorong masuk, Pak Slamet tarik keluar sedikit, begitu terus. Tante Lisa cuma bisa mengerang panjang, air matanya keluar karena terlalu penuh.

Sepuluh menit kemudian Tante Lisa sudah orgasme berkali-kali sampai badannya lemas. Akhirnya aku keluar duluan, menyemprot di dalam bareng Pak Slamet yang juga keluar hampir bersamaan. Tante Lisa ambruk di dadaku, cairan kami bertiga mengalir keluar dari vaginanya yang sudah merah dan bengkak.

Kami bertiga duduk di pinggir kolam, hujan masih gerimis kecil. Tante Lisa cium pipi aku, lalu cium pipi Pak Slamet.

“Mulai besok malam, kita bertiga ya… jadwal tetap. Tapi Pak Slamet bawa kunci gerbang biar nggak repot lompat pagar lagi,” katanya sambil tertawa.

Pak Slamet cuma nyengir sambil nyalain rokok.

Sejak itu, kolam renang komplek yang “tutup jam 10 malam” jadi punya shift khusus jam 1–3 pagi.
Dan ibu-ibu komplek mulai heran kenapa air kolam selalu keruh tiap pagi.

Sampai sekarang masih jalan.
Cuma sekarang Tante Lisa minta dibawa pelampung besar… katanya biar bisa main di tengah kolam tanpa takut tenggelam pas kami bertiga “berat” bareng.

Leave a Comment