Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Kost

Tante Kost

Tante Kost
Namaku Rayhan, 19 tahun, baru pindah ke Yogyakarta untuk kuliah kedokteran hewan. Orang tua nyewa kamar kos di rumah besar milik Tante Mira—janda 36 tahun yang punya tiga kamar kosong di lantai dua. Rumahnya di daerah Gejayan, halaman luas, ada kolam ikan kecil, pohon mangga besar di belakang, dan… suasana yang selalu sepi malam hari.

Tante Mira tinggi 169 cm, badan masih kencang karena tiap pagi yoga di teras belakang. Rambutnya cokelat ombre panjang bergelombang, selalu tergerai atau dikuncir satu. Kulitnya sawo matang eksotis, dada besar (pasti 36D), pinggang kecil, bokong penuh—selalu terlihat karena dia suka pakai daster satin tipis atau tank top + celana pendek ketat di rumah. Bau parfumnya manis vanila, selalu tercium kalau dia lewat.

Hari pertama pindah, dia yang bantu angkat koperku ke lantai dua. Daster satin biru mudanya basah keringat di punggung, menempel di kulit—bentuk bra dan celana dalamnya terlihat jelas. Dia tersenyum ramah, tapi matanya… lama menatapku.

“Rayhan ya? Santai aja di sini, anggap rumah sendiri. Tante tidur di lantai satu, kalau butuh apa-apa malam-malam tinggal ketuk pintu kamar tante aja.”

Aku mengangguk, sudah salah tingkah dari menit pertama.

Malam pertama, jam 1 pagi, aku turun ambil air. Rumah gelap, hanya lampu teras nyala. Aku lewat ruang tamu—pintu kamar Tante Mira terbuka sedikit. Lampu tidur kuning menyala. Dia tidur miring, daster naik sampai paha atas, satu payudaranya hampir keluar dari daster, kakinya terbuka sedikit—celana dalam putih tipis terlihat samar. Aku berdiri di ambang pintu, nggak bisa gerak.

Tiba-tiba dia membuka mata, tersenyum kecil.

“Rayhan… haus ya? Masuk aja, ambil air di dispenser dalam kamar tante.”

Aku masuk dengan jantung mau copot. Dia bangun, daster turun sedikit—putingnya hampir terlihat. Dia menuang air ke gelas, lalu menyodorkan sambil mendekat banget. Payudaranya hampir menyentuh dadaku.

“Malam pertama di rumah baru… susah tidur ya?”

Aku mengangguk. Dia tersenyum, lalu tiba-tiba memelukku pelan dari depan. Tubuhnya hangat, lembut, bau sabun dan vanila langsung bikin aku keras.

Dia merasakannya, tersenyum di leherku.

“Wah… ada yang sudah betah nih…”

Dia menarikku ke ranjangnya—besar, sprei satin abu-abu. Dia mendorongku telentang, lalu naik ke atasku—daster masih dipakai, hanya naik sampai pinggang. Dia menggosok vaginanya ke celanaku, basah sekali.

Dia menciumku dalam-dalam, lidahnya bermain liar. Tangannya masuk ke bawah kausku, lalu turun membuka celanaku. Penisku sudah berdiri tegak, basah di ujung.

Dia menatap lama, menggigit bibir bawah.

“Gila… anak kos baru kok segede ini…”

Dia turun, menjilat satu kali dari bawah sampai atas, lalu menelan seluruhnya—dalam, basah, lidahnya berputar liar. Aku pegang rambutnya yang panjang, mengerang keras.

Dia berhenti sebelum aku keluar, naik lagi, menyingkirkan daster lewat kepala—telanjang bulat. Tubuhnya lebih sempurna dari yang aku bayangkan: payudara besar berisi, puting cokelat muda, perut rata dengan garis halus, vagina dicukur rapi.

Dia memegang penisku, mengarahkan, lalu menurunkan pinggulnya pelan—satu dorongan dalam sampai habis. Dia mengerang panjang, mata terpejam, tangan memegang bahuku kuat-kuat.

“Enak banget… penuh… lama banget tante nggak gini…”

Dia mulai bergerak—lambat dulu, gerakan melingkar seperti penari. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku hisap bergantian, gigit pelan sampai dia merem melek.

Lalu dia mempercepat—ranjang berderit keras, sprei satin berkerut. Aku angkat dia, pindah posisi—sekarang aku di atas. Aku masuk lagi dari atas, pompa keras, dia mengerang tanpa malu lagi.

“Di dalam ya… tante aman… keluarin semua…”

Aku meledak—banyak sekali, panas, memenuhi dia. Dia orgasme bersamaan, badannya kejang hebat, kuku mencakar punggungku.

Kami ambruk, napas tersengal. Tapi itu baru malam pertama.

Setelah itu rumah kos jadi surga pribadiku.

Setiap malam setelah anak kos lain tidur (ada dua cowok lain di lantai dua), Tante Mira naik ke kamarku—kadang pakai daster tipis, kadang cuma handuk, kadang telanjang bulat pakai kimono terbuka.

Kami melakukannya di mana saja:

  • Di kamar mandi lantai dua saat anak kos lain tidur—dia menempel di dinding ubin, aku dari belakang, air shower mengalir
  • Di dapur tengah malam—dia duduk di island counter, kaki terbuka, aku berdiri di depannya
  • Di halaman belakang bawah pohon mangga—dia telentang di rumput, bintang-bintang jadi saksi
  • Di garasi—dia membungkuk di kap motor, aku masuk dari belakang sambil pegang pinggulnya

Satu malam yang benar-benar gila:

Tante Mira ulang tahun ke-37. Anak-anak kos diajak makan malam di ruang tamu—ada aku dan dua temenku. Setelah makan, temenku pada tidur. Jam 12 malam Tante Mira ketuk pintuku, pakai baby doll hitam transparan dan high heels merah.

Dia bawa kue ulang tahun kecil dengan satu lilin.

“Ray… tiup lilin tante…”

Dia menaruh kue di meja, lalu membungkuk—baby doll naik, bokongnya terlihat sempurna. Aku tiup lilin, dia tersenyum, lalu mendorongku ke ranjang.

Malam itu dia minta “hadiah ulang tahun spesial”.

Dia suruh aku ikat tangannya ke tiang ranjang pakai syal satin. Lalu dia minta aku mainkan dia pakai es batu dari kulkas, bulu kemoceng, dan lidahku—selama satu jam penuh tanpa masuk. Dia menggeliat, merintih, memohon—tapi aku tahan.

Baru setelah dia hampir nangis minta, aku masuk—keras, dalam, ganas. Kami lanjut sampai subuh—posisi berganti, dia squirt berkali-kali sampai kasur basah total.

Paginya dia turun bikin sarapan kayak biasa, tersenyum manis ke anak kos lain.

Cuma aku yang tahu kenapa dia jalan agak pincang hari itu.

Sekarang sudah setahun aku ngekost di sana.

Dua temen kosku sudah pindah—katanya “terlalu banyak suara aneh malam-malam”.

Sekarang cuma aku satu-satunya anak kos.

Dan Tante Mira selalu bilang: “Kamar lain tante tutup. Cukup satu anak kos spesial aja.”

Setiap malam pintu kamarnya terbuka lebar.

Dan aku selalu pulang sebelum jam 11—biar nggak ketinggalan “bayar kos” dengan cara yang paling aku suka.

TAMAT. 🏡🔥

Leave a Comment