Verification: a25133a91a4eb45a

Kak Lina Tetangga Kos

Kak Lina Tetangga Kos

Kak Lina Tetangga Kos

Namaku Arga, 21 tahun, kuliah arsitektur di Bandung. Kosku di daerah Dago Bawah, gang kecil, rumah-rumah tua berdempitan. Sebelah kosku ada rumah kontrakan mungil yang ditempati seorang perempuan sendirian: Kak Lina, 29 tahun, desainer interior freelance. Kami pertama kenal karena tembok pembatas cuma setinggi dada, dan sering saling sapa kalau sama-sama nyiram tanaman sore hari.

Kak Lina bukan tipe “tante seksi” yang langsung kelihatan murahan. Dia justru tipe yang bikin orang nggak bisa berhenti melirik karena… biasa aja, tapi salah. Rambut pendek sebahu yang selalu acak-acakan, badan sedang-sedang saja (165 cm, dada mungkin 34C, pinggang nggak kecil-kecil amat, bokong bulat biasa), kulitnya sawo matang pucat karena jarang kena matahari, sering pakai kaftan longgar atau hoodie besar sama celana training. Tapi entah kenapa, setiap dia ketawa, setiap dia selonjor di kursi teras sambil main HP, setiap dia ngomong pelan sambil nyanyi-nyanyi sendiri… aku selalu keras tanpa alasan jelas.

Mungkin karena dia nggak pernah berusaha seksi. Malah kebalikannya. Dan itu yang bikin aku gila.

Awalnya cuma ngobrol biasa. Pinjem garam, pinjem gunting, ngobrol tentang lagu-lagu lama, tukeran playlist Spotify, pinjem buku desain, ngopi bareng di teras kalau hujan. Nggak pernah ada yang aneh-aneh. Sampai suatu malam.

Malam itu hujan deras banget, petir berderet-deret. Jam setengah dua belas, listrik mati total se-gang. Aku lagi ngerjain deadline tugas studio, laptop mati, panik. Tiba-tiba ketukan pelan di pintu kosku.

“Arga… masih bangun?”

Kak Lina berdiri di pintu, pakai hoodie abu-abu besar (punyaku yang pernah aku pinjemin minggu lalu), rambut basah, kaki telanjang, cuma bawa senter HP.

“Listrik mati, chargerku habis, boleh numpang charge di kamu nggak? Kamu kan punya powerbank gede itu.”

Aku nyengir, nyalain lilin, suruh masuk. Kosku cuma 3×4 meter, ranjang single, meja kecil, lemari. Dia masuk, duduk di lantai bersila, colok charger ke powerbankku. Hujan masih deras, petir sesekali nyala, menerangi wajahnya yang tenang.

Kami ngobrol. Lama. Tentang tugas yang bikin stres, tentang kliennya yang nyebelin, tentang lagu-lagu yang lagi kami suka. Entah kenapa suasana jadi… beda. Diam-diam yang nyaman. Hujan jadi satu-satunya suara.

Lalu dia tiba-tiba ngomong pelan, hampir berbisik:

“Arga… aku boleh cerita sesuatu nggak?”

Aku angguk.

“Aku… udah setahun lebih nggak pacaran. Bukan karena nggak ada yang mau. Banyak. Tapi aku takut. Takut salah lagi kayak dulu. Jadi aku matiin semua perasaan itu. Tapi kadang… malam kayak gini, aku kangen banget… dipeluk.”

Dia nggak nangis. Cuma diam, tatap lantai.

Aku nggak tahu harus ngomong apa. Jadi aku cuma geser duduk di sebelahnya di lantai, pelan-pelan tarik dia ke pelukanku. Dia nggak melawan. Malah balas peluk lebih erat. Kepalanya di dadaku, rambutnya basah dingin, bau shampo murah yang selalu dia pakai.

Kami diam lama. Hanya dengar hujan dan detak jantung masing-masing.

Lalu dia ngangkat kepala, tatap mataku. Matanya basah, tapi nggak nangis. Bibirnya gemetar sedikit.

“Arga… boleh aku cium kamu?”

Aku nggak jawab. Langsung cium dia duluan.

Ciuman pertama pelan, hati-hati, kayak takut pecah. Lalu dia yang balas lebih dalam, lebih lapar. Lidah kami ketemu, napas tersengal. Tangan aku masuk ke bawah hoodie—nggak ada bra. Payudaranya kecil tapi kencang, putingnya sudah keras. Dia mengerang pelan di mulutku.

Dia tarik hoodienya lepas—telanjang dada. Tubuhnya biasa aja, nggak sempurna, ada stretch mark di pinggang, ada bekas luka kecil di bahu, ada tahi lalat di bawah payudara kiri. Tapi aku nggak pernah melihat tubuh yang lebih indah dari itu malam itu.

Kami pindah ke ranjang kecilku. Dia di atas, ciuman nggak berhenti. Aku buka training-nya—celana dalam katun biasa warna abu-abu. Vaginanya basah sekali, rambutnya tipis alami. Dia nggak malu-malu, malah tarik tanganku ke sana.

“Aku udah lama banget nggak disentuh orang…”

Aku jilat dia pelan-pelan. Rasa asin-manis, bau khas perempuan yang nggak pakai parfum di situ. Dia mengerang pelan, tangannya di rambutku, pinggulnya naik-turun pelan. Nggak buru-buru. Kami nikmatin setiap detik.

Lalu dia balik menindihku, cium dadaku, perutku, turun lebih bawah. Dia buka boxerku, lihat penisku, tersenyum kecil.

“Gede… aku takut nggak muat…”

Dia jilat pelan, nggak langsung dalam kayak di film-film. Malah lama di ujungnya, lidahnya muter-muter, kayak lagi menikmati es krim. Aku hampir gila.

Kemudian dia naik, pegang penisku, arahkan sendiri. Masuk pelan—sangat pelan. Dia mengerutkan dahi, napas tersendat.

“Sakit… tapi enak…”

Kami diam dulu setelah masuk semua. Hanya peluk, cium, tatap mata. Lalu dia mulai gerak—bukan naik-turun liar, tapi gerakan kecil dari pinggul, seperti gelombang. Kami nggak buru-buru keluar. Kami nikmatin rasa penuh, rasa hangat, rasa satu sama lain.

Malam itu kami bercinta tiga kali—perlahan, lama, penuh ciuman dan bisik-bisik. Nggak ada kata kasar, nggak ada posisi akrobatik. Cuma dua orang yang lagi sangat butuh satu sama lain.

Paginya listrik hidup lagi. Dia bangun duluan, bikin kopi di dapur kecilku, pakai hoodieku lagi—panjang sampai paha. Kami sarapan roti bakar sambil duduk di lantai, kaki saling nyender.

“Arga… aku nggak minta apa-apa dari kamu. Aku cuma mau kita jalanin aja… pelan-pelan. Boleh?”

Aku angguk.

Dan kami jalanin.

Bukan hubungan biasa. Bukan pacaran. Bukan teman berbenefit yang dingin. Lebih dari itu, tapi kami nggak pernah kasih label.

Kami mulai hidup bareng-bareng tanpa pindah alamat.

Pagi-pagi dia sering masuk kamar aku sebelum kuliah, cuma peluk dari belakang sambil aku gosok gigi. Kadang kami bercinta di kamar mandi, air dingin, berdiri, pelan-pelan.

Siang hari kalau aku pulang cepat, dia lagi kerja di teras belakang—laptop, sketsa, kopi. Aku duduk di sebelahnya, kepala di pahanya, dia elus-elus rambutku sambil kerja.

Malam hari jadi waktu kami. Kadang cuma rebahan nonton drama Korea sambil pelukan. Kadang ngobrol sampai subuh. Kadang bercinta—di ranjang kecilku, di ranjangnya yang lebih besar, di lantai, di dapur, di bawah pohon mangga belakang rumah saat hujan rintik-rintik.

Kami nggak pernah buru-buru. Nggak pernah kasar (kecuali kalau lagi sangat kangen). Kami belajar tubuh satu sama lain seperti belajar bahasa baru—pelan, penuh salah, penuh tawa, penuh “eh kok enak gini”, “coba lagi dong”, “pelan-pelan ya”, “aku suka kalau kamu gini”.

Kak Lina mulai berubah. Rambutnya dipanjangin lagi. Mulai pakai lipstik warna peach. Mulai beli bra-branya yang cantik (katanya biar aku senang lihat). Aku mulai rajin masak buat dia. Mulai belajar bikin kopi tubruk yang pas buat dia.

Kami mulai punya ritual kecil:

  • Setiap habis hujan, kami duduk di teras, minum teh anget, dengar suara katak
  • Setiap Jumat malam, kami matiin HP, nyanyi bareng pakai gitar aku (dia fals, aku juga)
  • Setiap aku ulang tahun atau dia ulang bulan, kami ke warung mie ayam langganan, lalu pulang bercinta sampai pagi

Satu malam yang aku nggak akan lupa seumur hidup:

Hujan deras lagi, listrik mati lagi. Tapi kali ini kami nggak takut gelap.

Dia masuk kamar aku, cuma pakai kausku yang besar, rambut basah. Kami rebahan di ranjang kecil, pelukan, denger hujan.

Lalu dia ngomong pelan:

“Arga… aku hamil.”

Aku diam. Jantungku berhenti.

Dia nggak nangis. Cuma tatap aku, mata basah tapi tenang.

“Aku nggak minta kamu tanggung jawab. Aku cuma mau kamu tahu. Aku mau simpan. Mau jadi ibu. Kalau kamu mau ikut… aku senang banget. Kalau nggak… aku ngerti.”

Aku peluk dia erat-erat, cium keningnya berkali-kali.

“Aku ikut. Aku mau jadi ayah. Aku mau kita bareng-bareng.”

Malam itu kami nggak bercinta. Cuma pelukan, nangis pelan-pelan, ketawa, peluk lagi. Hujan nggak berhenti sampai pagi.

Sekarang sudah setahun lewat.

Kak Lina sudah nggak kerja freelance lagi—aku yang nyuruh dia istirahat. Aku ambil kerja part-time, ngerjain proyek lepas, kuliah tetap jalan.

Kami pindah ke kontrakan yang lebih besar di gang sebelah—dua kamar, halaman kecil. Tembok pembatas kami cat ulang warna hijau muda.

Perut Kak Lina sudah membesar. Dia masih cantik, malah tambah cantik. Aku masih suka lihat dia selonjor di sofa sambil gosok perut, nyanyi-nyanyi pelan buat bayi kami.

Malam-malam kami masih suka matiin lampu, denger hujan, pelukan.

Dan setiap kali petir menyambar, dia selalu bisik:

“Ingat malam pertama kita?”

Aku selalu jawab:

“Setiap hari aku ingat.”

Kami nggak pernah kasih label hubungan kami.

Tapi kami tahu—ini rumah. Ini keluarga. Ini cinta.

Dan itu lebih dari cukup.

TAMAT.

Leave a Comment