Verification: a25133a91a4eb45a

Ketahuan Ngintip Tante Rina di Kamar Mandi

Ketahuan Ngintip Tante Rina di Kamar Mandi

Ketahuan Ngintip Tante Rina di Kamar Mandi

Aku masih ingat bau sabun colek dan uap panas yang keluar dari celah pintu kamar mandi lantai dua rumah tante Rina. Malam itu aku lagi nginep di rumahnya karena orang tua ke luar kota. Umurku baru 19, tante Rina 37, janda dua tahun sejak om pergi kecelakaan. Tubuhnya… ya Tuhan, masih kencang banget. Payudara yang selalu mengjuran di balik daster tipis, pinggul yang bergoyang setiap dia lelet jalannya, dan bau parfum manis yang selalu nyangkut di hidungku tiap dia lewat.

Pukul 11 malam, lampu rumah sudah pada mati semua kecuali lampu kamar mandi. Aku pura-pura tidur di kamar tamu, tapi pikiran nggak bisa diem. Aku tahu kebiasaan tante: setiap malam dia mandi agak lama, kadang nyanyi kecil sambil keramas. Pintu kamar mandinya memang agak rusak, ada celah sekitar 1 cm di samping engsel atas. Cukup buat mata nakal.

Aku merayap pelan, jantunganku bunyinya kayak drum. Pas sampai depan pintu, aku langsung menempelkan mata. Uap tebal, tapi bayangannya jelas banget. Tante Rina berdiri di bawah shower, rambutnya basah menempel di punggung, air mengalir dari leher, terus turun ke belahan payudara yang… gede dan masih sangat tegak. Putingnya cokelat muda, keras karena air dingin. Sabun mengalir pelan di perutnya yang rata, terus ke selangkangan yang dicukur rapi, hanya menyisakan garis tipis rambut halus.

Aku nggak sadar tanganku sudah masuk ke celana pendek. Penis aku sudah ngaceng maksimal, berdenyut-denyut tiap tante menggosok pahanya pelan. Dia membalikkan badan, bokongnya bulat sempurna, air menetes dari lekukan pinggangnya. Aku hampir keluar hanya gara-gara lihat itu.

Tiba-tiba…

“Rey… kamu ngapain di situ?”

Suara tante Rina. Dingin. Tenang. Tapi bikin bulu kudukku berdiri.

Aku kaget sampai mundur dua langkah, hampir jatuh. Pintu kamar mandi terbuka pelan. Tante berdiri di ambang pintu, badannya masih basah, hanya handuk kecil yang melilit dadanya—tapi handuknya terlalu mini, bagian bawah bokongnya masih kelihatan, dan belahan payudaranya hampir tumpah keluar.

Aku cuma bisa melongo. Mulutku kering.

“Ngintip tante ya?” suaranya masih tenang, tapi ada nada lain… nada yang bikin perutku bergetar. Dia melangkah mendekat, air masih menetes dari ujung rambutnya ke lantai. “Sudah berani banget kamu, Rey.”

Aku mau minta maaf, tapi lidahku kelu. Tante malah tersenyum kecil, matanya turun ke selangkanganku yang masih menonjol keras di balik celana.

“Kelihatan banget kamu suka ngeliatin tante tiap hari,” bisiknya sambil mendekat lagi sampai dada kami hampir bersentuhan. “Mau lihat lebih dekat?”

Aku cuma bisa mengangguk lelet.

Tante menarik tanganku, membawaku masuk ke kamar mandinya yang masih beruap. Dia lepas handuknya pelan… dan ya Tuhan, tubuh telanjang tante Rina berdiri tepat di depanku. Payudara yang selama ini cuma aku bayangkan, sekarang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Putingnya mengeras lagi, entah karena udara atau karena dia juga sudah basah di tempat lain.

“Sentuh,” katanya lembut tapi tegas.

Tanganku gemetar waktu meremas payudaranya yang empuk tapi kenyal. Dia mendesah pelan, kepalanya mendongak. Aku langsung menempelkan bibirku ke putingnya, mengisap keras seperti orang kelaparan. Tante memegang kepalaku, jari-jarinya menyelami rambutku.

“Sudah lama tante perhatikan kamu ngintip dari balik jendela, dari celah pintu… tante sengaja nggak nutup rapat, tahu,” katanya sambil tertawa kecil nakal. “Tante juga kesepian, Rey.”

Dia menarik celanaku turun dalam satu gerakan. Penis aku langsung loncat keluar, sudah basah di ujungnya. Tante memegangnya pelan, mengocok perlahan sambil menatapku dalam-dalam.

“Gede juga ternyata ponakan tante,” bisiknya sambil menjilat bibir bawahnya.

Tanpa banyak kata lagi, tante mendorongku sampai duduk di pinggir bathtub. Dia naik ke pangkuanku, lututnya di kanan-kiri tubuhku. Aku merasakan panas dan basah di antara pahanya menyentuh ujung penisku. Tante menggoyang pinggulnya pelan, menggesek-gesekkan bibir vaginanya ke batangku tanpa masuk dulu, cuma menggoda.

“Masukin, tante mau sekarang,” desahnya di telingaku.

Aku angkat pinggulnya sedikit, lalu… satu dorongan. Kami berdua mengerang bersamaan. Tante langsung memeluk leherku erat, pinggulnya mulai naik-turun dengan ritme yang gila. Air dari tubuhnya yang masih basah menetes ke perutku, bikin sensasi dingin dan panas bercampur. Tiap dia turun, payudaranya memantul keras tepat di depan wajahku. Aku gigit putingnya bergantian, dia makin liar.

“Rey… lebih keras… tante mau dihajar ponakannya sendiri…” erangnya.

Aku balik posisi, menekan tante ke dinding kamar mandi yang dingin. Kaki tante aku angkat satu ke pundakku, lalu aku sodok dalam-dalam berkali-kali. Bunyi benturan kulit dan erangan kami memenuhi ruangan yang penuh uap. Tante sudah nggak bisa bicara lagi, cuma erangan panjang dan kata-kata kotor yang keluar tanpa kontrol.

“Aku mau keluar, tante…” aku berbisik sambil makin cepat.

“Di dalam… keluarin di dalam tante… tante aman…” jawabnya sambil mencakar punggungku.

Satu dorongan terakhir, aku meledak di dalamnya. Rasanya seperti semua tenaga aku tercabut sekaligus. Tante juga ikut orgasme, tubuhnya kejang-kejang, vagina nya memilin penisku kuat banget sampai aku merinding semua.

Kami berdua ambruk di lantai kamar mandi, napas ngos-ngosan. Tante memelukku erat, mencium keningku pelan.

“Besok malam tante sengaja mandi lebih lama lagi ya… kamu boleh ngintip lagi. Tapi lain kali, langsung masuk aja, nggak usah malu-malu.”

Aku cuma bisa tersenyum. Malam itu baru permulaan. Selama orang tua masih di luar kota, setiap malam rumah tante Rina jadi tempat aku “mandi” juga… tapi dengan air yang jauh lebih panas dan lengket.

Malam Kedua: “Tante Rina Pakai Baju Tidur Transparan & Main di Ruang Tamu

Besok malamnya aku pura-pura nonton TV di ruang tamu sendirian. Jam sudah menunjukkan 11:30, lampu utama dimatikan, hanya lampu tidur kuning temaram. Tante Rina turun dari lantai atas dengan langkah yang sengaja pelan. Aku langsung tegang begitu melihat penampilannya.

Dia pakai night gown satin warna hitam transparan, panjangnya cuma sampai pertengahan paha. Di balik kain tipis itu, jelas banget bra push-up merah marun dan G-string senada. Putingnya menonjol keras, bahkan kelihatan warna areolanya. Rambutnya digerai basah, kayak habis keramas lagi, bau shampoo stroberi langsung nyebar ke seluruh ruangan.

“Masih belum ngantuk ya, Rey?” tanyanya sambil berdiri tepat di depan TV, sengaja menghalangi pandanganku. Dia membungkuk pura-pura ambil remote di meja, bokongnya yang bulat terangkat, G-stringnya masuk ke belahan pantat sampai kelihatan semuanya.

Aku cuma bisa menelan ludah.

Tante berbalik, tersenyum nakal. “Kamu suka kan kalau tante pake gini? Tante beli khusus buat kamu.”

Dia mendekat, lalu tanpa basa-basi duduk straddling di pangkuanku, langsung di sofa ruang tamu. Kain satin night gown-nya langsung tersingkap ke atas, pahanya yang mulus langsung menjepit pinggangku. Aku bisa merasakan panas dan lembab dari G-string-nya yang sudah basah menempel di celanaku.

“Cepet banget basah, tante…” bisikku sambil meremas pantatnya.

“Habis mikirin kamu tadi siang, tante colmek dua kali di kamar,” jawabnya santai sambil menggoyang pinggulnya maju-mundur di atas penisku yang mulai mengeras. “Sekarang gantian kamu yang bikin tante keluar berkali-kali.”

Tante bangun sebentar, menarikku berdiri, lalu mendorongku sampai punggungku menempel ke dinding dekat tangga. Dia berlutut di depanku, menurunkan celanaku dengan cepat. Penis aku langsung berdiri tegak di depan wajahnya.

“Gila, makin gede aja tiap hari,” katanya sambil menatapku penuh nafsu. Tanpa nunggu lagi, mulutnya langsung menelan seluruh batangku sampai ke tenggorokan. Aku mengeluh keras. Tante Rina mainin lidahnya di bawah kepala penis, sesekali menggigit pelan, lalu menghisap keras sampai pipiku ikut cekung.

Aku nggak tahan lama. Baru dua menit aku sudah mau keluar.

“Tahan dulu,” perintahnya sambil berdiri. Dia membalikkan badan, tangannya bertumpu ke dinding, bokongnya diangkat tinggi. “Masukin dari belakang, tante mau digenit di ruang tamu biar lebih seru.”

Aku tarik G-string merahnya ke samping (nggak aku lepas, biar lebih nakal). Bibir vaginanya sudah bengkak dan licin banget. Satu dorongan, aku masuk full sampai pangkal. Tante langsung mendesah keras, kepalanya mendongak.

“Pelan dulu… nanti keras…” pintanya.

Tapi cuma lima detik dia sudah minta lebih keras.

“Hajar tante, Rey… sodok sampe tante nggak bisa jalan besok!”

Aku pegang pinggulnya kuat-kuat, lalu mulai pompa dengan ritme cepat. Tiap aku dorong dalam, bokongnya bergetar hebat, bunyi “plok plok plok” memenuhi ruang tamu yang sepi. Tante menutup mulutnya sendiri biar nggak terlalu keras teriakannya, tapi tetap lolos erangan-erangan kecil yang bikin aku makin gila.

Tiba-tiba dia menoleh, matanya liar.

“Angkat tante, bawa ke sofa, posisi nungging.”

Aku cabut, langsung angkat tubuhnya (tante Rina ringan banget). Aku baringkan dia di sofa panjang, posisi lutut di lantai, badan atas di sofa, bokong terangkat tinggi. Aku masuk lagi dari belakang, kali ini lebih dalam karena posisinya pas banget. Tangan kiriku meremas payudaranya dari bawah bra, tangan kananku turun ke klitorisnya, menggosok cepat.

Tante sudah nggak bisa bicara lagi. Hanya erangan panjang dan kata “lagi… lagi… lagi…” yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya mulai kejang, tanda-tanda mau orgasme.

“Aku keluar dulu ya, tante…” aku mau cabut, tapi dia malah mendorong pantatnya ke belakang lebih keras.

“Di dalam lagi… isi tante lagi kayak kemarin…”

Aku nggak bisa nahan. Beberapa detik kemudian aku meledak di dalamnya untuk kedua kali dalam dua hari berturut-turut. Cairan kami bercampur, mengalir keluar dari sela-sela pahanya yang masih aku sodok pelan.

Tante ambruk di sofa, napasnya tersengal. Aku duduk di sampingnya, masih nggak percaya ini nyata.

Tapi tante belum selesai.

Dia bangun pelan, lalu naik lagi ke pangkuanku, kali ini menghadapku. Penis aku yang baru keluar masih setengah keras, langsung masuk lagi ke dalamnya yang licin banget karena sperma aku sendiri.

“Ronde tiga, tante mau sambil ciuman,” katanya sambil langsung menempelkan bibirnya ke bibirku.

Kami ciuman panas, lidah saling berputar, sambil dia naik-turun pelan di atasku. Payudaranya bergesekan ke dadaku, putingnya keras menggosok kausku. Kali ini lebih lambat, lebih intim, tapi tetap bikin gila.

Setengah jam kemudian, kami berdua keluar bersamaan untuk ketiga kalinya malam itu. Tante menggigit bahuku keras sampai meninggalkan bekas, tubuhnya kejang hebat di pangkuanku.

Setelah itu dia hanya tersenyum lemas, kepalanya bersandar di dadaku.

“Besok malam tante mau main di dapur… pakai apron doang, nggak pakai apa-apa di dalam. Kamu mau?”

Aku cuma bisa nyengir sambil peluk dia lebih erat.

Tiga malam lagi orang tua belum pulang.
Dan tiap malam tante Rina punya “kostum” baru buatku.

Malam Terakhir – Tante Rina Minta Diikat & Dihukum di Kamar Utama Orang Tua

Hari terakhir sebelum orang tua pulang.
Pukul 21.00 mereka baru telepon bilang pesawat mendarat jam 10 pagi besok. Artinya… kami punya satu malam penuh terakhir tanpa gangguan.

Tante Rina sudah menunggu di kamar tidur utama (kamar orang tua aku). Pintu sengaja dia buka lebar. Begitu aku masuk, napasku langsung berhenti.

Dia berdiri di tengah kamar, pakai one set lingerie hitam full lace: bra half-cup yang cuma nutup separuh payudara, corset ketat yang bikin pinggangnya kecil banget, garter belt, stocking jaring, dan high heels 12 cm. Tangan kirinya memegang tali ikat pinggang kulit merah… dan tangan kanannya memegang borgol besi.

“Malam ini tante mau jadi milik kamu sepenuhnya, Rey,” katanya dengan suara bergetar karena nafsu. “Ikat tante. Hukum tante. Lakuin apa aja yang selama ini cuma kamu bayangin. Besok kita balik jadi tante-ponakan biasa lagi. Jadi malam ini… jangan kasih ampun.”

Aku nggak butuh diajak dua kali.

Aku ambil borgolnya, langsung memborgol kedua tangannya ke belakang. Lalu aku dorong dia sampai lututnya di kasur king-size orang tua aku. Aku buka ikat pinggang kulit dari tangannya, melipatnya dua kali… dan tanpa basa-basi aku pukul keras ke bokongnya yang terbungkus lace tipis.

PLAK!

Tante mengerang keras, badannya mengelinjang. Bekas merah langsung muncul.

“Lagi…” pintanya.

PLAK! PLAK! PLAK!

Sepuluh kali aku pukul sampai bokongnya merah membara. Tiap kali kena, dia menggigit bantal, tapi pinggulnya malah maju minta lagi.

Setelah puas, aku sobek G-string hitamnya dengan tangan (benar-benar aku robek sampai putus). Vaginanya sudah banjir, cairannya menetes ke kasur. Aku masukkan dua jari sekaligus, mengocok cepat sambil jempolku menggosok klitorisnya. Tante langsung menjerit kecil, tubuhnya kejang, orgasme pertama datang dalam hitungan detik, cairannya menyemprot ke tanganku.

Aku belum mau masuk. Malam ini aku mau dia benar-benar hancur dulu.

Aku ambil dasi ayah dari lemari, mengikat kedua pergelangan kakinya ke tiang ranjang sehingga posisinya membuka lebar, bokong terangkat tinggi. Lalu aku ambil vibrator besar yang ternyata tante sembunyikan di laci (ukuran 9 inch, tebal banget). Aku nyalakan getar maksimal, tempelkan ke klitorisnya sambil aku masukin pelan ke dalam.

Tante langsung teriak keras, badannya menggeliat liar, borgolnya bergesekan keras ke tiang ranjang. Dalam tiga menit dia sudah orgasme kedua kalinya, kali ini sampai squirt membasahi sprei orang tua aku.

“Rey… masukin punya kamu… tante udah nggak tahan…” mohonnya dengan suara serak.

Aku lepas celana, penisku sudah ngaceng sampai sakit. Aku masuk dari belakang dalam satu hentakan keras sampai pangkal. Tante menjerit panjang. Aku tarik rambutnya ke belakang, memaksa dia menengadah, lalu aku genit sekuat tenaga. Kasur bergoyang hebat, bunyi ranjang kayu orang tua berderit keras seperti mau patah.

Aku cabut, balik badannya, lalu buka borgolnya sebentar hanya untuk mengikat ulang tangannya ke atas kepala ke tiang ranjang. Sekarang dia terbuka lebar di depanku. Aku naik ke atasnya, masukin lagi sambil cium bibirnya ganas. Tiap aku dorong dalam, payudaranya bergoyang liar di balik bra lace yang sudah melorot.

Aku tarik bra-nya ke bawah sampai putingnya keluar semua, lalu aku gigit keras bergantian sambil terus menghantam. Tante sudah nggak bisa bicara lagi, hanya erangan panjang dan air mata kenikmatan yang mengalir di pipinya.

“Aku mau keluar, tante…” aku beritahu sambil mempercepat.

“Di dalam… isi tante terakhir kali… penuhin sampe penuh…” jeritnya.

Aku dorong dalam-dalam, lalu meledak. Rasanya sperma aku nggak habis-habis keluar, tante juga orgasme bersamaan, kakinya yang terikat menegang keras, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Kami berdua ambruk, napas tersengal-sengal.

Setelah beberapa menit, aku buka semua ikatannya. Tante memelukku erat, air matanya masih mengalir.

“Makasih, Rey… ini malam terbaik dalam hidup tante.”

Aku cium keningnya pelan. “Tante juga yang terbaik buat aku.”

Kami tidur pelukan sampai pagi.
Jam 06.00 kami buru-buru bersihin semua bekas: sprei diganti, kasur disemprot pengharum, borgol dan vibrator disembunyiin lagi. Jam 09.30 orang tua masuk pintu, kami sudah duduk manis di ruang tamu, pura-pura nonton TV bareng sambil ngopi.

Tapi tiap tante Rina lewat depanku buat ngambil piring, dia sengaja membungkuk sedikit… dan aku lihat bekas merah di bokongnya masih ada di balik rok pendeknya.

Dia menoleh sekilas, tersenyum kecil, lalu membentuk kata tanpa suara dengan bibirnya:

“Libur sekolah nanti… tante tunggu kamu lagi.”

Dan aku tahu, ini bukan akhir.
Cuma jeda.

Selesai.

Leave a Comment