Verification: a25133a91a4eb45a

Malam yang Tante Lisa Tak Akan Pernah Lupa

Malam yang Tante Lisa Tak Akan Pernah Lupa

Malam yang Tante Lisa Tak Akan Pernah Lupa

Hujan deras mengguyur kota sejak sore. Listrik mati total jam sembilan malam, rumah besar di pinggir kota jadi gelap dan pengap. Hanya lilin-lilin kecil di meja ruang tamu yang masih menyala, memantulkan bayangan goyang di dinding.

Tante Lisa duduk di sofa kulit cokelat, kakinya selonjor, tank top putihnya agak basah karena keringat. Tanpa bra, bentuk payudaranya yang masih kencang terlihat jelas. Putingnya samar-samar menonjol setiap kali angin dari jendela terbuka menyelinap masuk. Di sebelahnya, aku (Raka, 22 tahun) pura-pura santai meneguk red wine langsung dari botol.

“Panas banget ya, Ka…” katanya sambil mengipas-ngipas leher dengan tangan. Rambutnya yang biasanya rapi diikat ponytail kini terurai basah di pundak.

Aku cuma mengangguk, tapi mataku nggak bisa lepas dari belahan dadanya yang naik-turun setiap kali dia bernapas dalam. Aku sudah lama menunggu momen ini. Sejak SMP aku sudah mencuri-curi pandang setiap dia datang ke rumah. Sekarang aku sudah dewasa, dan malam ini rumah cuma berisi kami berdua.

Aku geser lebih dekat. Lutut kami bersentuhan.

“Tante kangen nggak disentuh orang?” tanyaku tiba-tiba, suaraku rendah.

Dia tersedak wine-nya sedikit, tertawa gugup. “Apaan sih tiba-tiba…”

Aku nggak menjawab. Aku taruh botol wine di meja, lalu pelan-pelan taruh tanganku di paha Tante Lisa, tepat di atas lutut. Kulitnya hangat, lembut.

“Raka…” suaranya bergetar, tapi kakinya nggak bergerak menjauh.

“Tante sendiri yang bilang tadi, udah dua tahun nggak ada yang pegang,” bisikku sambil menatap matanya. “Malem ini cuma kita berdua. Nggak ada yang tahu.”

Jari-jariku naik perlahan, menyusuri paha dalamnya. Dia menegang, tangannya memegang pergelanganku—bukan menolak, cuma gemetar.

“Ini salah, Ka… kita keluarga…” katanya pelan, tapi matanya sudah berkaca-kaca karena nafsu yang dia tahan bertahun-tahun.

Aku nggak peduli lagi. Aku tarik tangannya, letakkan di pangkuanku biar dia merasakan betapa keras aku sudah dari tadi. Matanya melebar kaget, tapi dia nggak menarik tangannya.

“Tante juga mau kan?” bisikku lagi, lalu aku cium lehernya pelan, meninggalkan jejak lidah basah.

Dia menggigit bibir bawahnya keras sampai memutih. Napasnya tersengal.

Aku nggak kasih dia waktu berpikir lagi. Aku angkat tank top-nya perlahan sampai ke atas kepala, buka sepenuhnya. Payudaranya yang besar dan masih sangat kencang terpampang di depanku. Putingnya cokelat muda, sudah mengeras sempurna.

“Raka… matiin lilinnya dulu…” pintanya malu-malu.

“Enggak,” jawabku tegas. “Aku mau lihat Tante jelas malam ini.”

Aku turunkan mulutku, jilat puting kirinya pelan sambil remas yang kanan. Dia mendesah keras, kepalanya terdongak ke belakang. Tangan yang tadinya mencoba menolak sekarang malah memeluk kepalaku, menekan lebih dalam.

Aku terus mainkan putingnya dengan lidah, gigit pelan sampai dia menggelinjang. Tangan kiriku turun ke celana pendeknya, meraba dari luar. Sudah basah sekali.

“Celana dalamnya basah banget, Tan…” godaku.

Dia cuma merintih pelan, nggak bisa jawab.

Aku tarik celana pendeknya sekaligus CD-nya ke bawah dalam satu gerakan. Tante Lisa sekarang telanjang bulat di sofa kulit, kakinya terbuka lebar karena aku paksa. Bulu kemaluannya tipis rapi, bibir vaginanya sudah bengkak dan berkilau karena cairan.

Aku berdiri, buka celanaku sendiri. Kontolku langsung berdiri tegak, sudah ngacung keras dari tadi. Tante Lisa menatapnya dengan mata terbelalak—campuran takut dan nafsu.

“Gede banget… Tante takut…” katanya lirih.

Aku cuma tersenyum. Aku tarik kedua pergelangan tangannya, satukan di atas kepala dia, pegang erat dengan satu tangan. Tangan satunya aku gunakan buat arahkan kepala kontolku ke bibir vaginanya, gesek-gesek pelan.

“Masuk pelan-pelan aja ya, Tan… Tante kan udah lama kosong,” bisikku sambil dorong pelan.

Kepala kontolku masuk sedikit, langsung disambut dinding vagina yang sangat ketat dan panas. Tante Lisa menggigit bibirnya keras, alisnya berkerut menahan sakit dan nikmat bersamaan.

“Pelan… pelan, Ka…” pintanya.

Tapi aku malah dorong lebih dalam sekaligus sampai habis. Dia menjerit kecil, badannya menegang semua.

“Udah masuk semua, Tan. Enak kan?” bisikku sambil mulai gerak pelan.

Dia cuma bisa mengangguk lemah, air matanya menetes karena terlalu penuh. Aku mulai pompa pelan tapi dalam, tiap masuk sampai pangkal. Sofa kulit berderit-derit mengikuti irama.

Semakin lama Tante Lisa semakin liar. Pinggulnya mulai ikut gerak naik-turun, menyambut setiap tusukan. Desahannya semakin keras.

“Enak banget… Tante nggak nyangka keponakan sendiri bisa bikin gini…” katanya terbata-bata.

Aku lepas pegangan tangannya, langsung dia peluk leherku erat. Aku angkat tubuhnya dari sofa, bawa sambil tetap nyambung, dia melingkar kakinya di pinggangku. Aku bawa ke meja makan kayu jati besar, baringkan dia di atasnya.

Sekarang posisi misionaris sempurna. Aku tarik kedua kakinya ke atas pundakku, buka lebar-lebar, lalu hajar dalam-dalam tanpa ampun. Tiap masuk bunyi “plok… plok…” keras karena basah sekali.

“Tante mau keluar… Tante mau keluar, Ka…!” jeritnya tiba-tiba.

Aku malah semakin cepat. Sepuluh detik kemudian badannya kejang-kejang hebat, vagina Tante Lisa memeluk kontolku kuat-kuat berkali-kali. Dia orgasme keras sampai cairannya muncrat sedikit ke perutku.

Aku nggak kasih dia istirahat. Aku tarik dia turun dari meja, suruh berlutut di lantai keramik yang dingin.

“Buka mulut, Tan,” perintahku.

Dia nurut. Matanya basah, bibirnya gemetar, tapi dia buka mulut lebar-lebar. Aku sodok pelan dulu, lalu semakin dalam sampai menyentuh tenggorokan. Dia batuk-batuk sedikit, tapi nggak menolak.

Aku pegang kepalanya, mulai genjot mulutnya pelan tapi pasti. Air liurnya menetes ke dagu dan lantai. Beberapa menit kemudian aku sudah nggak tahan.

“Keluar di dalam ya, Tan…” kataku sambil tarik kontolku dari mulutnya, arahkan ke wajahnya.

Aku semprot penuh. Sperma kental tebal muncrat berkali-kali di wajah Tante Lisa—dari dahi sampai dagu, ada yang masuk ke mulutnya yang masih terbuka. Dia diam saja, cuma napas tersengal, biarkan sperma menetes ke payudaranya.

Setelah selesai, aku tarik dia berdiri, peluk erat. Dia lemas sekali di pelukanku.

“Ini rahasia kita ya, Ka…” bisiknya lemah.

Aku cium keningnya. “Rahasia kita selamanya, Tan.”

Hujan di luar masih deras. Listrik belum nyala. Malam masih panjang… dan aku tahu ini baru babak pertama.

Leave a Comment