Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Lina Ngentot Keponakan Sampai Banjir

Tante Lina Ngentot Keponakan Sampai Banjir

Musim hujan tahun itu datang lebih awal.
Jakarta basah sejak akhir Mei, dan aku, Arga, 23 tahun, baru saja di-PHK dari startup tempatku magang. Orang tua memintaku pulang ke Bandung sementara waktu, tapi rumah mereka sedang direnovasi besar-besaran. Satu-satunya pilihan: numpang di rumah Tante Lina, adik kandung Mama, yang tinggal sendirian di Lembang setelah cerai tiga tahun lalu.

Aku sudah lama tidak bertemu Tante Lina. Terakhir kali mungkin saat aku SMA, dan ingatanku tentang dia cuma kabur: perempuan ramah yang selalu memakai parfum manis dan suka mengacak-acak rambutku sambil memanggil “si ganteng kecil”. Tapi ketika pintu rumah kayu bergaya Skandinavia itu terbuka sore itu, aku langsung lupa napas.

Tante Lina, 39 tahun, berdiri di ambang pintu memakai kaus putih oversized yang jatuh sampai paha tengah, rambutnya basah sehabis mandi, dan aroma sabun mandi citrus bercampur kopi terpancar dari dalam rumah. Tingginya hampir 170 cm, kulitnya sawo matang bersih, dan senyumnya… ya Tuhan, senyumnya masih sama seperti dulu, tapi sekarang terasa berbahaya.

“Arga?” suaranya rendah, sedikit serak. “Ya ampun, sudah segede ini orangnya.”

Aku cuma bisa mengangguk sambil menelan ludah. Tante memelukku sebentar—pelukan biasa keluarga—tapi dadaku langsung seperti disetrum. Tubuhnya hangat, lembap, dan aku bisa merasakan dia tidak memakai bra di balik kaus tipis itu.

Malam pertama berlalu biasa saja. Kami makan malam bareng (dia masak rendang kesukaan Mama), ngobrol tentang pekerjaan, tentang perceraiannya yang ternyata karena suaminya selingkuh dengan sekretaris. Aku bilang aku single, dia tertawa pelan.

“Masih muda, nikmati aja dulu. Nanti juga ketemu yang bikin lupa jalan pulang.”

Entah kenapa kalimat itu terngiang terus sampai aku tidur.

Hari ketiga, hujan deras mengurung kami berdua di rumah. Listrik mati sejak sore. Tante menyalakan lilin-lilin kecil di ruang keluarga, lalu membuka sebotol red wine yang katanya sudah disimpan dua tahun.

“Malam ini kita mabuk bareng ya, Ga,” katanya sambil mengedip. “Tante jarang bisa minum seenaknya kalau ada orang.”

Satu gelas, dua gelas, tiga gelas.
Obrolan mulai melantur. Dari musik lawas sampai cerita masa kecil. Aku tidak tahu kapan tepatnya suasana berubah, tapi tiba-tiba Tante sudah duduk di karpet, bersandar ke sofa, kakinya selonjor, dan kausnya naik sampai memperlihatkan celana dalam hitam berenda.

“Arga masih perjaka nggak sih?” tanyanya tiba-tiba, mata berbinar karena alkohol.

Aku tersedak wine. “Tanteee…”

“Jawab aja. Tante penasaran.”

“Bukan… sudah pernah. Tapi cuma dua kali, sama mantan.”

Tante tertawa sampai terjungkal. “Dua kali doang? Kasian amat.”

Lalu diam. Hujan di luar semakin keras. Lilin berkedip-kedip.

“Kalau Tante tanya sesuatu yang agak… nakal, kamu janji nggak kaget?” suaranya sekarang pelan sekali.

Aku mengangguk.

“Pernah ngebayangin Tante nggak? Waktu kamu remaja gitu.”

Jantungku mau copot. Aku ingin bohong, tapi mulutku malah jujur sendiri.
“Pernah.”

Tante menatapku lama. Lalu dia menggeser duduknya mendekat, sampai lutut kami bersentuhan.

“Sekarang gimana? Masih suka ngebayangin?”

Aku tidak bisa menjawab. Tante mengangkat tangannya, menyentuh pipiku pelan, ibu jarinya mengusap bibir bawahku.

“Tante juga pernah ngebayangin kamu, loh,” bisiknya. “Sejak kamu datang hari pertama. Tante malu sendiri.”

Detik itu dunia seperti berhenti. Aku menangkap tangannya, menariknya pelan sampai dia duduk di pangkuanku—posisi yang terlalu intim untuk keluarga, tapi terlalu lama kami tahan.

Kami berciuman.
Pertama pelan, seperti takut, lalu semakin lapar. Lidahnya manis bercampur wine, napasnya panas di leherku. Tangannya merayap ke bawah kausku, mengelus perutku, lalu turun lebih jauh. Aku mengerang saat jarinya menyentuh aku di atas celana pendek.

“Besaran ya ponakan Tante sekarang,” bisiknya nakal sambil menggigit cuping telingaku.

Aku sudah tidak bisa berpikir. Aku mengangkat tubuhnya, membawanya ke kamar utama—kamar Tante yang selalu terkunci kalau aku lewat. Kami jatuh ke ranjang king-size yang beraroma lavender. Lilin di meja samping masih menyala, menerangi tubuhnya saat dia menarik kausnya lepas.

Payudaranya besar, padat, putingnya cokelat muda sudah mengeras. Aku menelungkup di atasnya, mencium lehernya, turun ke dada, mengulum satu puting sambil tanganku meremas yang lain. Tante mengerang keras, punggungnya melengkung.

“Arga… pelan-pelan… Tante lama nggak gini…”

Aku malah semakin ganas. Aku turun lebih bawah, mencium perutnya yang masih rata, lalu menarik celana dalam hitam itu perlahan. Bulu kemaluannya rapi, tipis. Aku mencium paha dalamnya, lalu akhirnya lidahku menyentuh kelentiknya yang sudah basah sekali.

Tante menjerit kecil, tangannya mencengkeram rambutku. “Ya Tuhan… jago banget kamu…”

Aku menjilatnya pelan dulu, lalu cepat, memainkan klitorisnya dengan ujung lidah sampai tubuhnya gemetar hebat. Dia orgasme pertama kali malam itu hanya dari oral—cairan hangat membasahi daguku, pahanya menjepit kepalaku kuat-kuat.

Saat dia masih terengah-engah, aku bangun, menarik celanaku. Tante membuka mata, melihat aku yang sudah telanjang bulat dan sangat keras. Matanya membesar.

“Gila… gede banget ponakan Tante…”

Dia duduk, menarikku mendekat, lalu tanpa ragu memasukkan aku ke dalam mulutnya. Hangat. Basah. Lembut. Aku hampir keluar di detik kesepuluh, tapi Tante tahu. Dia berhenti, menatapku sambil tersenyum nakal.

“Belum boleh keluar. Tante mau naik dulu.”

Dia mendorongku telentang, lalu naik ke atas pangkuanku. Kami saling tatap lama—ada rasa bersalah, ada rasa takut, tapi hasrat jauh lebih besar. Tante memegang aku, mengarahkan ke pintu masuknya, lalu perlahan-lahan turun.

Kami berdua mengerang bersamaan.
Dia sangat ketat, sangat panas, sangat basah. Aku merasakan setiap inci tubuhnya menelan aku sampai habis. Tante mulai bergerak pelan, pinggulnya bergoyang seperti penari. Payudaranya berguncang di depan mataku, aku meraihnya, meremas keras.

“Enak nggak, Ga…?” tanyanya terengah.

“Enak banget Tante… gila…”

Dia mempercepat gerakan. Suara paha kami bertemu berulang-ulang memenuhi kamar, bercampur erangan dan kata-kata kotor yang tidak pernah kukira akan keluar dari mulut Tante Lina.

“Ngewek Tante enak ya? Lebih enak dari pacar-pacar kamu yang masih muda?”

“Iya Tan… Tante paling enak… aku mau Tante terus…”

Kami berganti posisi berkali-kali. Doggy—aku memegang pinggulnya yang bulat sempurna sambil menghantam keras sampai dia menjerit minta ampun. Missionary—kami berciuman dalam-dalam sambil aku memompa pelan tapi dalam. Spooning—dia di depanku, aku memeluknya dari belakang sambil tanganku meremas payudaranya dan kami sama-sama menonton bayangan kami di cermin besar lemari.

Malam itu Tante orgasme empat kali. Aku baru keluar di yang kelima, saat dia sudah naik lagi di atasku dan memohon aku mengisi dia dalam-dalam.

“Di dalam aja Ga… Tante aman… isi Tante…”

Aku meledak di dalamnya, rasanya seperti mati dan masuk surga bersamaan. Tante mengejang hebat, kuku-kukunya mencakar punggungku, lalu kami berdua ambruk, basah keringat dan cairan cinta.

Pagi harinya hujan sudah reda. Kami bangun telanjang dalam pelukan satu sama lain. Tante mencium keningku pelan.

“Ini salah, ya?” bisiknya.

Aku menggeleng. “Buat aku nggak.”

Dia tersenyum, lalu mencium bibirku lagi. “Kalau gitu… kita lanjutin aja ya sampai kamu dapat kerja lagi?”

Aku tertawa, memeluknya erat.

Dua bulan aku tinggal di rumah itu. Dua bulan penuh hujan, kopi, wine, dan tubuh Tante Lina yang seolah tak pernah puas. Kami bercinta di mana saja: di dapur pagi-pagi sebelum kopi jadi, di sofa sambil nonton drama Korea, di bak mandi air panas, bahkan sekali di teras belakang saat gerimis kecil sambil Tante memakai raincoat doang.

Ketika akhirnya aku dapat kerja lagi di Jakarta dan harus pindah, Tante mengantar ke stasiun. Di peron, dia memelukku lama sekali.

“Kalau kangen, pulang aja. Pintu Tante selalu terbuka buat kamu,” bisiknya di telingaku.

Aku mengangguk, menahan air mata.

Sekarang, setiap kali hujan turun di Jakarta, aku selalu ingat aroma lavender dan citrus, suara erangan Tante yang serak, dan bagaimana dia memanggilku “ponakan ganteng” sambil tersenyum nakal di antara kelambu putih kamarnya di Lembang.

Dan aku tahu, suatu hari nanti, aku pasti pulang lagi.
Ke pelukannya.
Ke hujan di bulan Juni yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Leave a Comment