Verification: a25133a91a4eb45a

Tante yang Selalu Salah Kirim Chat

Tante yang Selalu Salah Kirim Chat

Tante yang Selalu Salah Kirim Chat

Namaku Dika, 24 tahun, kerja di startup di Jakarta, tinggal di apartemen studio kecil di daerah Kuningan. Suatu malam, jam 11 lewat, aku dapat chat dari nomor tak dikenal:

[+62 812-xxxx-xxxx]
Sayang, aku udah sampe apartemen. Kangen banget. Kangen peluk kamu dari belakang sambil kita nonton Netflix. Cepet buka pintu ya 😘

Aku bengong. Salah kirim?

Aku balas:

[Dika]
Maaf, kayaknya salah kirim nih. Ini Dika, bukan sayangnya siapa-siapa šŸ˜…

Lima menit kemudian balasan datang:

[+62 812-xxxx-xxxx]
YA TUHAN MAAP BGT DIKA 😭😭😭
Ini Tante Rina, tetangga sebelah unit 12C!! Tadi mau kirim ke pacar, eh masuk ke grup chat tetangga apartemen yang baru dibikin admin. Aku malu banget huhu

Aku ketawa ngakak. Ternyata Tante Rina—perempuan 36 tahun yang tinggal sendirian di unit sebelah, sering aku lihat bawa tas belanja atau olahraga pagi pakai legging. Dia cerai setahun lalu, kerja sebagai content creator kuliner, cantik banget versi ā€œtetangga idamanā€: tinggi 168 cm, badan atletis, rambut panjang lurus, selalu wangi, sering pakai dress santai atau kaos crop top + celana pendek di rumah.

Sejak chat salah kirim itu, kami jadi akrab banget.

Awalnya cuma bercanda soal chat memalukan itu. Lalu jadi sering chat biasa—nanya makan malam apa, share meme, tukeran rekomendasi series Netflix. Kadang dia kirim foto masakan yang baru dia bikin (dia jago masak), kadang aku kirim foto desain yang lagi aku kerjain.

Satu malam, jam 1 pagi, dia chat lagi:

[Tante Rina 🧁]
Dik… kamu masih bangun? Bisa tolong nggak? Aku lagi takut banget, kayak ada suara aneh di luar pintu 😭

Aku langsung bangun, pakai sandal, lari ke unit sebelah. Pintu sudah terbuka sedikit, dia berdiri di balik pintu pakai kaos oversized putih (punyaku yang pernah aku pinjamkan pas dia kehujanan), rambut basah, wajah pucat.

ā€œMasuk dulu, Dikā€¦ā€

Aku masuk. Apartemennya mirip punyaku, tapi lebih rapi dan wangi. Dia langsung peluk aku dari depan—erat banget, badannya gemetar.

ā€œAku tadi denger suara ketukan… aku takut banget sendirianā€¦ā€

Aku peluk balik, usap punggungnya. Kaosnya tipis, aku bisa rasakan dia nggak pakai bra. Payudaranya menempel di dadaku, napasnya panas di leherku.

Kami diam lama. Lalu dia ngangkat kepala, tatap aku.

ā€œDika… boleh aku cium kamu?ā€

Aku nggak jawab. Langsung cium dia duluan.

Ciuman pertama ganas—langsung dalam, lidah bertemu, napas tersengal. Dia tarik kausku lepas, aku tarik kaosnya—telanjang dada. Payudaranya besar kencang, puting pink muda. Aku hisap keras, dia mengerang keras.

Kami pindah ke sofa, dia naik ke pangkuanku, ciuman nggak berhenti. Aku buka celana pendeknya—nggak ada celana dalam. Vaginanya sudah banjir.

Dia pegang penisku, matanya membelalak.

ā€œGila… gede bangetā€¦ā€

Dia masukin sendiri—satu dorongan sampai habis. Dia mengerang panjang, kepala terdongak.

Kami bercinta di sofa itu—dia naik-turun ganas, payudaranya bergoyang liar, aku remas keras. Lalu aku balik menindihnya, pompa cepat, sofa berderit keras.

ā€œDi dalam ya… tante aman… isi tanteā€¦ā€

Aku keluar di dalam—banyak sekali. Dia orgasme bersamaan, badannya kejang hebat.

Kami napas tersengal. Tapi itu baru malam pertama.

Setelah itu chat kami jadi… lain.

Dari chat biasa jadi chat mesum 24 jam.

Pagi-pagi dia kirim foto selfie di lift pakai crop top ketat, caption: ā€œPagi sayang, kangen nggak? šŸ˜˜ā€

Siang hari dia kirim voice note mengerang pelan di toilet kantor, bilang lagi colplay sendiri mikirin aku.

Malam hari dia kirim video telanjang di balkon apartemen, mainin diri sendiri sambil panggil nama aku.

Kami ketemu hampir setiap hari—di unit dia, di unit aku, di rooftop apartemen, di tangga darurat, bahkan sekali di laundry room tengah malam.

Kami coba semua:

  • Dia pakai lingerie merah, ikat aku di kursi, edging aku selama satu jam
  • Aku pakai blindfold, dia mainin aku pakai es batu dan lidahnya
  • Kami rekam sendiri di cermin kamar mandi, dia naik di wastafel
  • Dia minta anal di balkon—pemandangan Jakarta malam jadi saksi

Satu malam yang gila:

Dia chat jam 10 malam:

[Tante Rina 🧁]
Sayang, tante lagi di rooftop. Datang sekarang. Bawa kondom. Atau nggak usah, terserah 😈

Aku naik ke rooftop—kosong, hanya lampu-lampu kota dan angin malam. Dia sudah nunggu—pakai coat panjang hitam, high heels, rambut tergerai.

Dia buka coat—di dalamnya cuma bra dan g-string merah, plus stocking.

Dia tarik aku ke sudut gelap, langsung berlutut, blowjob ganas di rooftop. Lalu dia berdiri, tangan di pagar, bokong terdorong—aku masuk dari belakang sambil angin malam menerpa tubuh kami.

Kami lanjut di lantai beton—dia telentang, kaki di bahuku, aku pompa keras sambil lihat bintang-bintang.

Terakhir dia minta di kursi besi—dia naik di atasku, gerakannya liar, payudaranya bergoyang, kami orgasme bareng sambil teriak tertutup suara angin.

Setelah itu kami masih sering salah kirim chat—tapi sekarang sengaja.

Ke tetangga lain.

Biar mereka tahu… unit 12C dan 12D lagi sangat bahagia.

TAMAT.

Leave a Comment