Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Tetangga yang Selalu Pinjam Gula

Tante Tetangga yang Selalu Pinjam Gula

Tante Tetangga yang Selalu Pinjam Gula

Namaku Bayu, 23 tahun, kerja remote sebagai UI/UX designer di Jakarta. Rumahku di cluster kecil di pinggiran BSD—rumah-rumah dua lantai, pagar tinggi, tetangga jarang saling sapa. Kecuali satu orang.

Tante Vina.
Usia 37 tahun, ibu rumah tangga biasa, suami pilot sering terbang ke luar negeri berminggu-minggu, dua anaknya masih SD dan TK, tiap pagi diantar sekolah sama supir. Dia bukan model, bukan artis, bukan mantan apa-apa. Tingginya cuma 158 cm, agak berisi (mungkin 60 kg), dada besar alami yang mulai agak menggantung, perut sedikit buncit, bokong lebar khas ibu-ibu yang sudah melahirkan dua kali. Rambutnya selalu dicepol asal, sering pakai daster murah atau kaus oblong sama celana pendek rumah. Wajahnya biasa—mata sipit, hidung pesek, pipi tembem, tapi kalau tersenyum… ada sesuatu yang bikin orang nggak bisa lupa.

Kami mulai kenal karena hal paling klise di dunia: pinjam gula.

Suatu sore aku lagi masak mie instan, gulaku habis. Aku ketuk pagar sebelah—pintu terbuka, Tante Vina muncul pakai daster bunga-bunga pink, rambut basah, bau sabun colek.

“Eh iya, Bayu ya? Gula ya? Masuk aja, tante ambil dulu.”

Aku masuk rumahnya yang selalu wangi sabun cuci piring. Dapur kecil, penuh mainan anak, TV nyanyi lagu kartun. Dia ambil gula dari toples, lalu ngobrol bentar. Anak-anaknya lagi les, suaminya di Sydney dua minggu lagi.

Sejak itu jadi rutinitas aneh.

Hampir tiap hari dia pinjam sesuatu: garam, bawang, sabun colek, charger, gunting kuku, bahkan sekali pinjam gunting rambut karena anaknya minta potong poni sendiri. Aku juga sering pinjam: cabe rawit, kecap, tisu, obeng—padahal aku punya, cuma cari alasan buat ketuk pagar.

Kami mulai ngobrol lebih lama. Di teras depan rumahnya, di trotoar, di dalam mobilku kalau aku antar dia ke minimarket. Obrolan biasa: anak-anak, kerjaan, drama tetangga, resep masakan, harga beras naik. Tapi selalu ada tatapan yang terlalu lama, senyuman yang terlalu hangat, dan jari yang sengaja bersentuhan saat nyerahin barang.

Satu malam, jam 11, aku lagi kerja deadline, listrik mati se-cluster. Aku keluar cari udara, Tante Vina juga keluar ke teras, pakai daster putih tipis, rambut tergerai, senter HP nyala.

“Bayu… anak-anak takut gelap. Boleh numpang di rumah kamu nggak? Rumah tante panas banget.”

Aku angguk. Dia bawa kedua anaknya yang masih ngantuk—satu digendong, satu digandeng. Anak-anak aku suruh tidur di kamar tamu, Tante Vina duduk di sofa ruang tamu ku.

Kami ngobrol pelan biar anak-anak nggak bangun. Obrolan biasa lagi—tapi kali ini beda. Dia duduk sangat dekat, paha kami nyentuh, bau sabun colek dan susu anaknya campur aduk.

Lalu dia tiba-tiba pegang tanganku.

“Bayu… tante boleh jujur?”

Aku angguk.

“Tante… kesepian banget. Suami jarang pulang. Anak-anak tidur cepat. Rumah sepi. Tante sering… mikirin kamu.”

Dia nggak nangis. Cuma tatap aku, mata basah tapi tenang.

Aku tarik dia pelan, peluk. Dia balas peluk erat, kepalanya di dadaku. Kami diam lama.

Lalu dia ngangkat kepala, cium aku—pelan, ragu-ragu. Aku balas ciuman itu, lebih dalam. Lidah kami ketemu, napas tersengal.

Dia tarik daster-nya lewat kepala—telanjang di bawahnya. Tubuhnya biasa aja—ada stretch mark, ada lemak di perut, payudara besar agak menggantung, puting cokelat tua besar. Tapi aku nggak pernah melihat tubuh yang lebih indah.

Kami bercinta di sofa itu—perlahan, hati-hati, takut anak-anak bangun. Dia di atas, gerakannya pelan, seperti takut pecah. Aku pegang pinggulnya yang lebar, bantu dia naik-turun. Kami nggak buru-buru keluar. Kami nikmatin setiap detik.

Setelah itu kami masih pelukan di sofa, dia pakai kausku yang besar, aku pakai celana pendek doang. Anak-anak masih tidur pulas di kamar tamu.

Listrik hidup jam 4 pagi. Dia bangun, cium keningku, bisik:

“Besok… tante pinjam gula lagi ya.”

Dan besoknya, dan besoknya lagi.

Kami mulai punya kode.

Setiap dia pinjam sesuatu malam-malam, artinya dia mau ketemu. Kadang cuma ngobrol, pelukan, ciuman. Kadang bercinta—di sofa, di dapur, di mobilku di garasi, di kamar tamuku kalau anak-anak tidur di rumahnya.

Kami nggak pernah buru-buru. Nggak pernah kasar. Selalu pelan, penuh ciuman, penuh bisik-bisik “aku kangen”, “aku takut”, “aku sayang”.

Satu malam yang nggak akan aku lupa:

Suaminya pulang tiba-tiba dari luar negeri. Rumah rame. Aku cuma bisa lihat dari jendela, dia tersenyum kaku ke suaminya, peluk anak-anak.

Malam itu dia nggak pinjam apa-apa.

Tapi jam 2 pagi, HP ku bergetar:

[Tante Vina 🍬]
Pinjam garam. Sekarang.

Aku buka pagar belakang. Dia datang lewat pintu samping, pakai daster biasa, rambut dicepol, mata sembab.

Dia masuk rumahku, langsung peluk aku erat-erat, nangis pelan di dadaku.

“Aku kangen banget… aku takut dia tahu… aku nggak bisa ninggalin anak-anak…”

Aku peluk dia lama, cium keningnya, usap punggungnya.

Kami nggak bercinta malam itu. Cuma pelukan di sofa, dia tidur di pangkuanku sampai subuh.

Paginya dia pulang sebelum anak-anak bangun.

Hubungan kami tetap jalan—tapi sekarang lebih hati-hati, lebih penuh rasa takut dan rindu.

Sampai suatu hari, tiga bulan kemudian, dia ketuk pintu malam-malam, bawa tas kecil.

“Bayu… tante mau cerai.”

Aku diam.

“Aku udah nggak tahan. Aku mau bareng kamu. Aku mau anak-anak punya ibu yang bahagia. Aku mau kita mulai dari nol. Boleh?”

Aku peluk dia erat-erat.

“Boleh.”

Sekarang Tante Vina tinggal di rumahku—resmi jadi istriku setelah perceraian selesai. Anak-anaknya panggil aku “Om Bayu” dulu, sekarang mulai panggil “Papa”.

Kami masih suka pinjam-pinjam barang—tapi sekarang pinjam garam, pinjam gula, pinjam pelukan—dari satu rumah ke rumah yang sama.

Dan setiap malam, sebelum tidur, dia selalu bisik:

“Bayu… pinjam peluk dong…”

Aku selalu jawab:

“Ambil aja semua. Punya kamu kok.”

TAMAT.

Leave a Comment