Verification: a25133a91a4eb45a

Mama Tiri Baru

Mama Tiri Baru

Mama Tiri Baru
Namaku Ilham, 19 tahun, anak tunggal.
Papa menikah lagi saat aku kelas 3 SMA dengan seorang janda cantik bernama Tante Dila—usia 34 tahun, mantan model, sekarang punya butik kecil di mall. Tinggi 170 cm, badan langsing tapi berisi di tempat yang tepat: dada 34D, pinggang kecil, bokong sempurna, kaki panjang mulus. Rambutnya cokelat panjang bergelombang, selalu pakai parfum mahal yang manis. Wajahnya cantik bak artis, mata besar, bibir penuh.

Papa sering dinas ke luar pulau, jadi rumah besar kami di kawasan elite Jakarta Selatan sering cuma diisi aku dan Tante Dila.

Awalnya biasa aja. Dia sopan, ramah, panggil aku “Mas Ilham” dengan suara manja. Tapi sejak hari pertama dia pindah masuk, aku sering “tidak sengaja” melihat dia keluar kamar mandi cuma pakai handuk pendek, atau pakai daster satin tipis tanpa bra saat sarapan, atau olahraga yoga di ruang keluarga dengan legging ketat yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.

Malam pertama papa pergi dinas selama seminggu, jam 11 malam, aku lagi main game di kamar. Pintu kamar terbuka pelan. Tante Dila masuk—pakai baby doll hitam transparan, rambut tergerai, wajah tanpa make-up tapi tetap cantik luar biasa.

“Mas Ilham… boleh temenin Tante Dila sebentar? Takut sendirian…”

Dia duduk di pinggir ranjangku, baby doll-nya naik sampai pangkal paha. Aku bisa lihat dia nggak pakai apa-apa di bawah. Putingnya terlihat jelas di balik kain tipis.

Aku cuma bisa mengangguk. Dia tersenyum, lalu tiba-tiba memelukku dari samping—payudaranya menempel di lenganku, hangat dan lembut.

“Papa kamu lama nggak pulang… Tante Dila kangen peluk-peluk…”

Dia mencium pipiku pelan, lalu leherku, lalu bibirku—pelan dulu, lalu ganas. Lidahnya masuk, bermain liar di mulutku. Tangannya turun ke selangkanganku, meremas pelan.

Aku langsung keras maksimal.

Dia menarik mundur, tersenyum nakal.

“Wah… anak tiri tante udah gede banget ya…”

Dia menarik kausku lepas, lalu mendorongku telentang. Dia naik ke atasku, baby doll masih dipakai, hanya naik sampai pinggang. Dia menggoyang pelan, vaginanya menggesek boxerku—basah sekali.

Dia mencium dadaku, menjilat putingku, lalu turun lebih bawah. Dia menarik boxerku, penisku berdiri tegak. Dia menatap lama, menggigit bibir bawah.

“Gila… papa nggak pernah segede ini…”

Dia menjilat satu kali dari bawah sampai atas, lalu menelan seluruhnya—dalam sekali, tenggorokannya terlatih. Dia naik-turun dengan ritme sempurna, mata menatapku penuh nafsu. Aku pegang rambutnya yang panjang, mengerang keras.

Dia berhenti sebelum aku keluar, naik lagi, menyingkirkan baby doll lewat kepala—telanjang bulat. Tubuhnya seperti patung—payudara besar kencang, puting pink muda, perut rata, vagina dicukur bersih.

Dia memegang penisku, mengarahkan, lalu menurunkan pinggulnya pelan—satu dorongan dalam sampai habis. Dia mengerang panjang, mata terpejam, tangan memegang bahuku kuat-kuat.

“Enak banget… penuh… anak tiri tante… lebih enak dari papa…”

Dia mulai bergerak—lambat dulu, gerakan melingkar seperti penari profesional. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku hisap bergantian, gigit pelan sampai dia merem melek.

Lalu dia mempercepat—ranjang king size berderit keras, sprei satin berkerut. Aku balik menindihnya, masuk lagi dari atas. Kaki dia melingkar di pinggangku, tumitnya menusuk punggungku.

Aku pompa keras, dia mengerang tanpa malu lagi.

“Di dalam ya… keluarin di dalam mama tiri… isi mama tiri…”

Aku meledak—banyak sekali, panas, memenuhi dia. Dia orgasme bersamaan, badannya kejang hebat, kuku mencakar punggungku sampai berdarah sedikit.

Kami ambruk, napas tersengal. Tapi itu baru malam pertama dari banyak malam.

Setelah itu rumah besar kami jadi arena pribadi.

Setiap papa pergi dinas (yang ternyata sering sekali), Tante Dila jadi “istri”ku sepenuhnya.

Pagi hari dia bangunkan aku dengan blowjob di bawah selimut—perlahan, basah, sampai aku keluar di mulutnya, dia telan semua sambil tersenyum.

Siang hari kalau aku pulang kuliah lebih awal, dia jemput di depan gerbang kampus pakai mobil SUV, rok mini, kacamata hitam—kami langsung ke apartemen kosong yang dia punya di Sudirman, bikin cinta siang bolong sampai sore.

Malam hari jadi waktu bebas:

  • Di kolam renang pribadi—dia telanjang bulat berenang, aku masuk dari belakang di pinggir kolam
  • Di home theater—dia naik di pangkuanku, nonton film dewasa sambil gerak pelan berjam-jam
  • Di rooftop—dia membungkuk di pagar, angin malam Jakarta, aku dari belakang sambil lihat lampu kota
  • Di walk-in closet papa—dia pakai lingerie mahal mama sebelumnya, aku sobek satu per satu

Satu akhir pekan yang nggak akan pernah aku lupa:

Papa pergi ke Singapura selama 4 hari. Tante Dila bilang kita “liburan di rumah aja”.

Hari pertama: dia suruh aku nggak usah kuliah, kami mulai dari pagi. Dia pakai apron doang tanpa apa-apa di dalam, masak sarapan, lalu aku angkat dia ke island counter dapur, masuk sambil dia pegang wajan.

Hari kedua: dia bawa tas besar—isinya lingerie berbagai warna, sex toys, tali, blindfold, bahkan strap-on. Kami main roleplay seharian: dia jadi sekertaris nakal, aku bos; dia jadi perawat, aku pasien; dia jadi polwan, aku tahanan—semuanya berakhir dengan seks liar di setiap sudut rumah.

Hari ketiga: dia minta “full day in bed”. Kami nggak keluar kamar utama selama 24 jam—hanya pesan GoFood, makan di ranjang, mandi bareng, tidur sebentar, lalu lanjut lagi. Dia minta anal untuk pertama kalinya—awalnya susah, tapi setelah masuk semua dia malah jadi gila, minta aku keluar di dalam sana juga.

Hari keempat pagi, sebelum papa pulang malamnya, kami mandi bareng terakhir kali—dia menempel di dinding kamar mandi, air panas mengalir, aku masuk dari belakang sambil pegang lehernya pelan. Dia orgasme berkali-kali sampai nangis kenikmatan.

Papa pulang malam itu, kami berpura-pura biasa aja di meja makan. Tapi di bawah meja, kaki Tante Dila menggosok selangkanganku pelan sepanjang makan malam.

Sekarang sudah dua tahun pernikahan papa dengan Tante Dila.

Papa masih sering dinas ke luar negeri.

Dan aku masih sering “bantu mama tiri di rumah” setiap papa nggak ada.

Kadang papa video call dari hotel, Tante Dila duduk di pangkuanku—di luar frame tentu saja—sambil aku masuk pelan dari belakang. Dia tersenyum manis ke kamera, bilang “kangen banget Papa” sambil vaginanya memilin penisku kuat-kuat.

Keluarga harmonis.

Tapi aku yang paling harmonis dengan mama tiri.

TAMAT. 🏠❤️🔥

Leave a Comment