Verification: a25133a91a4eb45a

Suster Malam

Suster Malam

Suster Malam
Namaku Dion, 19 tahun, mahasiswa kedokteran semester 3.
Dua minggu lalu aku jatuh dari motor di kampus—lutut robek dalam, harus dijahit dan rawat inap 5 hari di rumah sakit swasta tempat aku magang kecil-kecilan. Kamar rawat inapku di lantai 5, kelas VIP, cuma satu tempat tidur, kamar mandi dalam, TV besar. Orang tua pulang pergi, malam hari cuma aku sendiri.

Malam pertama setelah operasi, jam 11 malam, pintu kamar terbuka pelan. Masuk seorang suster malam—nametag-nya “Suster Vina”. Umur sekitar 29–30 tahun, tinggi 167 cm, badan berisi tapi atletis, kulit sawo matang mulus, rambut hitam panjang selalu disanggul rapi di balik topi suster. Seragamnya putih ketat—kancing depan agak meregang di bagian dada, rok pendek di atas lutut, stocking putih tipis, sepatu flat putih. Wajahnya cantik, mata besar, bibir tebal yang selalu pakai lipgloss bening.

Dia masuk sambil bawa infus baru, tersenyum lembut.

“Masih sakit ya, Dion? Suster ganti infusnya dulu.”

Suaranya manis, tapi ada nada dalam yang bikin bulu kuduk berdiri. Saat dia mengganti infus, dia condong ke depan—seragamnya terbuka sedikit di atas, bra biru muda dan belahan payudaranya terlihat jelas. Aroma parfumnya manis bercampur bau antiseptik—anehnya malah seksi.

Malam-malam berikutnya, Suster Vina selalu masuk sekitar jam 11–12 malam, saat rumah sakit sepi. Kadang ganti infus, kadang cuma cek tensi, tapi selalu lama. Dia duduk di kursi sebelah ranjang, ngobrol, cerita tentang pasien-pasien lain, atau nanya kuliahku. Tapi matanya selalu lama menatapku, tersenyum kecil setiap aku salah tingkah.

Malam keempat, infus sudah dilepas, hanya perban di lutut. Aku sudah bisa jalan sedikit ke kamar mandi. Jam 11.30 pintu terbuka lagi. Suster Vina masuk, kali ini tanpa baki obat, cuma bawa botol air mineral.

“Malam ini terakhir suster jaga di lantai ini… besok pindah lantai 3,” katanya sambil duduk di pinggir ranjangku.

Dia pakai seragam yang sama, tapi kancing atasnya terbuka satu lebih dari biasa. Stocking-nya agak turun sedikit di paha—entah sengaja atau tidak.

Dia meletakkan tangannya di paha atas ku—di atas selimut tipis rumah sakit.

“Masih sakit?”

Aku menggeleng. Jantungku sudah mau copot.

Dia tersenyum, lalu tiba-tiba menarik selimutku pelan sampai pinggang. Aku cuma pakai boxer dan kaus rumah sakit. Tonjolan di boxerku sudah jelas.

“Wah… ada yang lebih sakit dari lutut nih kayaknya…”

Tangannya masuk ke bawah boxer, langsung memegang penisku yang sudah keras maksimal. Jari-jarinya dingin dari AC, tapi gerakannya hangat dan terlatih.

Aku cuma bisa mengerang pelan.

Dia menarik boxerku sampai lutut, lalu naik ke ranjang—mengangkangi ku tanpa melepas seragamnya sama sekali. Hanya roknya dinaikkan sampai pinggang, celana dalam putih tipis disingkirkan ke samping.

Dia memegang penisku, mengarahkan, lalu menurunkan pinggulnya pelan—satu dorongan dalam sampai habis. Matanya terpejam, bibir menggigit bawah, mengerang pelan.

“Gila… gede banget… suster nggak nyangka…”

Dia mulai bergerak—lambat dulu, gerakan melingkar seperti tahu persis titik mana yang enak. Seragamnya masih rapi, hanya rok yang tergulung di pinggang, topi suster masih di kepala. Payudaranya bergoyang di balik seragam putih, kancing-kancingnya seperti mau copot.

Aku meremas payudaranya dari luar seragam, dia membuka dua kancing atas sendiri—bra biru muda terlihat, lalu dia tarik bra-nya ke bawah. Payudaranya terbebas—besar, kencang, puting cokelat tua sudah sangat keras. Aku hisap bergantian, gigit pelan sampai dia mengerang lebih keras.

Dia mempercepat—ranjang rumah sakit berderit keras, roda-roda kecilnya bergoyang. Untung lantai 5 sepi malam itu.

“Di dalam ya… suster aman… keluarin semua…”

Aku meledak—banyak sekali, panas, memenuhi dia. Dia orgasme bersamaan, badannya kejang hebat, tangan menutup mulut sendiri biar nggak keras. Cairannya banjir, membasahi sprei rumah sakit.

Kami napas tersengal. Tapi itu baru malam terakhir di lantai 5.

Besoknya aku pindah rawat jalan, tapi setiap malam jam 11 tepat, aku dapat WA:

[Suster Vina 🌙]
Lantai 3, kamar 312 kosong. Pintu belakang nggak dikunci.

Aku selalu datang—pakai jaket hoodie, pura-pura keluarga pasien. Kamar 312 selalu kosong, lampu dimatikan, hanya lampu kecil di atas ranjang dan lampu neon merah “exit” yang bikin suasana makin panas.

Kami melakukannya di sana hampir setiap malam selama sebulan penuh.

Kadang dia masih pakai seragam lengkap—hanya rok dinaikkan, kancing dibuka, aku masuk dari belakang sambil dia pegang tiang ranjang.

Kadang dia datang pakai mantel dokter panjang—di dalamnya cuma lingerie hitam dan stocking. Dia suka main dokter-pasien beneran: periksa tensi sambil blowjob di bawah meja, suntik vitamin sambil naik di atasku, atau pakai stetoskop sambil aku masuk dari belakang.

Satu malam yang benar-benar gila:

Dia WA jam 10 malam:

[Suster Vina 🌙]
Malam ini lantai 5 ruang operasi kecil kosong. Datang jam 11.30. Bawa kondom kalau takut.

Aku datang. Pintu ruang operasi kecil belakang terbuka sedikit. Di dalam gelap, hanya lampu operasi besar yang menyala terang benderang di tengah ruangan. Meja operasi stainless steel dingin, alat-alat medis mengkilap di sekitar.

Suster Vina sudah menunggu—pakai gown operasi hijau tipis, tanpa apa-apa di dalam, topi operasi, masker diturunkan ke leher. Tubuhnya terlihat samar di balik kain hijau tipis.

Dia menarikku ke meja operasi, menyuruhku telentang di atasnya. Dingin stainless bikin merinding, tapi nafsuku lebih panas.

Dia naik ke atas mejaku, masih pakai gown, hanya kainnya disingkap. Dia memasukkan aku pelan, lalu mulai bergerak—naik-turun dengan ritme teratur seperti mesin. Lampu operasi terang benderang menerangi setiap detail: payudaranya bergoyang, keringat menetes dari lehernya, wajahnya penuh nafsu.

Lalu dia turun, membalikkan badan—reverse cowgirl—bokongnya bulat sempurna di atas stainless. Aku pegang pinggulnya, bantu dia naik-turun lebih keras. Meja operasi bergoyang, roda-roda kecilnya berderit keras.

Dia orgasme pertama—cairannya menetes ke lantai stainless. Lalu dia minta posisi lain: dia telentang di meja operasi, kaki di stirrup (penyangga kaki), posisi persis pasien kandungan. Aku berdiri di ujung meja, masuk dalam-dalam. Dia mengerang keras, tangan memegang stirrup kuat-kuat.

Kami lanjut berjam-jam—di kursi dokter, di lantai dingin, di troli alat medis yang bergoyang-goyang. Terakhir dia minta di dinding—aku angkat dia, kakinya melingkar di pinggangku, masuk sambil berdiri. Dia orgasme berkali-kali sampai nangis kenikmatan.

Paginya aku pulang dengan badan pegal semua, tapi lututku entah kenapa lebih cepat sembuh.

Setelah itu kami pindah tempat lagi: gudang linen lantai basement (bau sabun colek dan kain bersih), ruang CT scan yang gelap dan dingin, bahkan sekali di ambulance kosong di parkiran belakang—dia naik di atasku di stretcher, lampu siren biru-merah berkedip-kedip dari luar.

Sekarang aku sudah sembuh total, tapi masih sering “kontrol” ke rumah sakit malam-malam. Kadang dia jemput aku di parkiran pakai mobil pribumi, kami ke motel terdekat, atau langsung di mobilnya di tempat parkir gelap.

Dan setiap kali selesai, dia selalu cium keningku, bisik manis dengan suara suster yang lembut:

“Pasien sudah sembuh… tapi tetap harus kontrol rutin ya, Sayang.”

Aku selalu janji akan datang lagi.

Karena resep dari Suster Vina… nggak ada habisnya.

TAMAT. 🏥🔥

Leave a Comment