Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Guru Les

Tante Guru Les

Tante Guru Les
Namaku Bima, 19 tahun, baru masuk kuliah jurusan teknik di Bandung. Nilai masukku pas-pasan, jadi mama panik dan cari guru les privat Matematika tambahan. Yang datang: Bu Arin.

Bu Arin, 34 tahun, guru SMA swasta ternama. Tinggi 168 cm, badan masih kencang karena rutin pilates dan lari pagi. Rambutnya hitam panjang lurus sampai pinggang, selalu dikuncir satu atau disanggul rapi. Wajahnya cantik tenang, bibir penuh, mata sipit sedikit yang selalu pakai eyeliner tipis. Dia selalu pakai kemeja putih lengan digulung, rok span hitam selutut, dan heels 5 cm—profesional tapi tetap seksi tanpa berusaha.

Hari pertama les di rumah, jam 7 malam. Orang tua lagi di luar kota, cuma aku dan mbak ART yang tidur cepat. Bu Arin datang tepat waktu, bawa tas laptop dan buku-buku tebal. Dia duduk di sebelahku di meja belajar kamar atas.

“Dua jam ya, Bima. Kita mulai dari turunan dulu.”

Suara dia lembut tapi tegas. Setiap dia menjelaskan, dia agak condong ke depan—kemeja ketat, dua kancing atas terbuka sedikit, aku bisa lihat belahan bra putih dan sedikit lekuk payudaranya. Aroma parfumnya (sesuatu yang manis tapi elegan) terus mengganggu konsentrasiku.

Satu jam berlalu. Aku salah terus. Dia menghela napas pelan, lalu tiba-tiba meletakkan tangannya di paha atas ku—di bawah meja.

“Bima… fokusnya ke mana?”

Jari-jarinya dingin dari AC, tapi sentuhannya bikin seluruh tubuhku panas. Aku cuma bisa menelan ludah.

Dia tersenyum kecil, tangannya naik lebih dalam, hampir menyentuh selangkanganku.

“Kalau nggak bisa fokus… mungkin Bu Arin harus kasih motivasi lain.”

Dia bangun, menutup pintu kamarku pelan, mengunci. Lalu kembali duduk, kali ini lebih dekat—pahanya menempel ke pahaku.

Dia membuka satu kancing lagi di kemejanya. Bra putih lace terlihat jelas sekarang.

“Setiap jawaban benar… satu kancing. Setiap salah… satu hukuman. Mau?”

Aku mengangguk lemas.

Pertanyaan pertama mudah. Aku jawab benar. Dia membuka kancing ketiga—sekarang belahan bra dan sebagian payudaranya terlihat sempurna.

Pertanyaan kedua aku salah. Dia tersenyum, lalu tiba-tiba menciumku—pelan dulu, lalu dalam. Lidahnya masuk, bermain liar. Aku langsung keras.

Dia menarik mundur, tersenyum.

“Itu hukuman pertama.”

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya aku sengaja salah semua.

Dalam 20 menit kemejanya sudah terbuka semua, bra-nya terdorong ke bawah, payudaranya terbebas—besar, kencang, puting kecil cokelat muda yang sudah sangat keras. Dia naik ke pangkuanku, masih pakai rok dan heels, kaki terbuka mengangkangi ku.

Dia menggoyang pelan, vaginanya (yang ternyata nggak pakai celana dalam) menggesek celanaku. Basah sekali.

“Bima… Bu Arin udah lama nggak beginian… suami di luar negeri… kamu mau bantu Bu Arin nggak?”

Aku cuma bisa mengangguk hebat.

Dia turun, berlutut di lantai, membuka resletingku, mengeluarkan penisku. Matanya membelalak.

“Ya Tuhan… masih mahasiswa kok segede ini…”

Dia menjilat satu kali dari bawah sampai atas, lalu menelan seluruhnya—dalam, basah, lidahnya berputar liar. Aku pegang kepalanya yang rapi, mengerang keras.

Dia berhenti sebelum aku keluar, naik lagi, menarik roknya sampai pinggang, lalu memasukkan sendiri—pelan, dalam, sampai habis. Dia mengerang panjang, mata terpejam, tangan memegang bahuku kuat-kuat.

“Enak banget… gede… penuh…”

Dia mulai naik-turun—lambat dulu, gerakan melingkar yang bikin aku gila. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku hisap bergantian, gigit pelan putingnya sampai dia merem melek.

Lalu dia mempercepat. Kursi belajar berderit keras. Aku angkat dia, pindah ke ranjang—dia masih mengangkangi, gerakannya semakin ganas. Aku balik menindihnya, masuk lagi dari atas. Kaki dia melingkar di pinggangku, heels-nya menusuk punggungku sedikit—justru tambah hot.

Aku pompa keras, ranjang bergoyang, dia mengerang tanpa malu lagi.

“Di dalam… keluarin di dalam Bu Arin… Bu Arin aman…”

Aku meledak—banyak sekali, panas, memenuhi dia. Dia orgasme bersamaan, badannya kejang hebat, kuku mencakar punggungku sampai berdarah sedikit.

Kami napas tersengal. Tapi itu baru malam pertama.

Setelah itu les jadi alasan sempurna.

Setiap Selasa dan Jumat malam jam 7–10, Bu Arin datang “ngajar”. Tapi buku cuma dibuka 15 menit pertama. Sisanya? Ranjang, lantai, meja belajar, bahkan kamar mandi—semua jadi saksi.

Dia suka pakai pakaian berbeda setiap kali:

  • Hari Selasa: kemeja putih + rok span (standar guru seksi)
  • Hari Jumat: blus satin tipis tanpa bra + celana kulot longgar yang gampang dilepas
  • Kadang dia datang pakai dress ketat tanpa apa-apa di dalam, langsung naik ke lantai dua tanpa salam ke mbak ART

Satu malam yang nggak akan aku lupa:

Dia datang jam 7, tapi kali ini pakai coat panjang hitam. Begitu masuk kamar, dia membuka coat—di dalamnya cuma lingerie hitam transparan, garter belt, stocking, dan heels 10 cm. Rambutnya tergerai, lipstik merah darah.

“Malam ini Bu Arin mau ulangan harian… tapi versinya tante.”

Dia bawa tas kecil—isinya mainan: vibrator, nipple clamps, blindfold, tali sutra, bahkan small butt plug dengan permata.

Dia suruh aku duduk di kursi belajar, tangan diikat ke belakang pakai tali sutra. Lalu dia menarikan tarian kecil—melepas lingerie perlahan, hanya tinggal stocking dan heels.

Dia naik ke pangkuanku, memasukkan aku pelan sambil mata menatapku tajam.

“Hari ini kamu cuma boleh diam… gerak sendiri nanti Bu Arin marah.”

Dia naik-turun pelan, sangat pelan, sambil mainkan putingku pakai nipple clamps. Rasa sakit bercampur nikmat bikin aku gila. Setiap kali aku mau gerak pinggul, dia cubit pahaku keras.

Setelah 30 menit menyiksa, dia baru lepas ikatanku.

“Sekarang hukuman karena nggak sabar.”

Dia pose doggy di ranjang, suruh aku masuk—tapi pakai butt plug yang sudah dilumasi. Aku masuk vaginanya dari belakang sambil plug di tempat lain—rasanya ganda, ketat luar biasa. Dia mengerang keras, badannya gemetar hebat.

Kami lanjut berjam-jam—posisi berganti, mainan berganti. Terakhir dia minta double penetration: aku di vagina, vibrator besar di belakang. Dia squirt berkali-kali sampai sprei basah total.

Paginya dia pergi jam 6 subuh, cium keningku, bisik:

“Nilai ulangan hari ini… A++.”

Dan memang, nilai Matematikaku semester itu naik drastis.

Mama sampai curiga kok tiba-tiba pinter.

Aku cuma bilang: “Guru lesnya bagus banget, Ma.”

Mama nggak tahu seberapa “bagus” Bu Arin dalam mengajar.

Sampai sekarang, setiap Selasa dan Jumat malam pintu kamar aku diketuk jam 7 tepat.

Dan aku selalu siap—buku sudah di meja, celana sudah dilepas, ranjang sudah dilapisi handuk tebal.

Karena les dengan Bu Arin nggak pernah cukup dua jam.

Biasanya sampai subuh.

TAMAT. 📏🔥

Leave a Comment