Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Dinda dan 30 Hari di Rumah Kayu

Tante Dinda dan 30 Hari di Rumah Kayu

Aku baru saja dipecat dari pekerjaan di Jakarta karena perusahaan bangkrut. Usia 25 tahun, tabungan menipis, dan orang tua sedang di luar negeri. Satu-satunya yang bisa menampungku sementara adalah Tante Dinda—adik bungsu Papa yang tinggal sendirian di rumah kayu besar warisan kakek di daerah Cisarua, dekat perkebunan teh.

Aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu Tante Dinda. Terakhir kali saat aku SMA, dia masih menikah dan tinggal di Bali. Sekarang dia janda, 38 tahun, dan katanya “lagi menikmati hidup sendirian”.

Hari pertama aku tiba, sore menjelang maghrib, kabut tebal menyelimuti rumah kayu dua lantai itu. Tante Dinda membukakan pintu dengan senyum lebar, memakai kaftan putih tipis yang panjang sampai mata kaki, rambutnya basah sehabis mandi, dan aroma sabun mandi sereh langsung menyelinap ke hidungku.

“Arkan… ya Tuhan, sudah besar sekali kamu,” katanya sambil memelukku erat.

Pelukannya lama. Aku bisa merasakan tubuhnya yang hangat di balik kain tipis itu. Tidak ada bra. Jantungku langsung balapan.

Malam itu kami makan malam di teras belakang yang menghadap hutan kecil. Tante masak ayam rica-rica dan tumis kangkung kesukaan Papa. Kami minum tuak manis dari bambu. Obrolan mengalir. Aku cerita tentang PHK, tentang mantan yang ninggalin aku pas susah, tentang rasa hampa.

Tante Dinda mendengarkan sambil memandangku dalam-dalam. Matanya cokelat keemasan, seperti madu.

“Di sini kamu boleh tinggal berapa lama pun kamu mau, Kan. Tante juga lagi sepi. Kita temanin satu sama lain, ya?”

Hari-hari pertama masih normal. Kami bangun pagi, jalan kaki ke kebun teh, Tante ajarin aku meditasi di balkon, kami masak bareng, nonton drama Korea sampai larut. Tapi aku mulai sadar sesuatu: Tante Dinda sangat… bebas di rumah.

Dia sering berjemur topless di dek atas kalau cuaca cerah.
Dia mandi di kamar mandi outdoor yang cuma ditutup anyaman bambu—aku bisa melihat siluetnya dari kamar tamu.
Dia tidur pakai tank top dan celana dalam doang, kadang cuma kimono pendek.

Hari ke-9, aku bangun tengah malam karena haus. Aku turun ke dapur, dan mendengar suara aneh dari ruang kerja Tante di lantai satu. Pintunya terbuka sedikit. Aku mengintip.

Tante Dinda duduk di kursi kayu besar, kakinya naik ke meja, memakai earphone, dan tangan kanannya… bergerak cepat di antara pahanya. Di monitor besar terlihat video porno—seorang pria muda dan perempuan dewasa. Napas Tante terengah-engah, erangannya pelan tapi jelas.

Aku terpaku. Ereksiku langsung keras. Aku hampir mundur, tapi kakiku menginjak lantai yang berderit.

Tante Dinda menoleh tajam. Matanya membelalak sebentar—lalu malah tersenyum.

“Arkan… mau ikutan?”

Aku tidak bisa bohong lagi. Aku masuk, menutup pintu, dan berdiri di depannya. Tante menarik earphone-nya, lalu dengan gerakan santai membuka kakinya lebih lebar. Celana dalam putihnya sudah basah di tengah.

“Sudah lama Tante perhatiin kamu ngintip, Kan. Tante nggak marah kok. Malah senang.”

Dia bangun, mendekat, lalu berlutut di depanku. Dengan satu tarikan, celanaku turun. Dia menatapku lama.

“Gila… Papa kamu dulu juga gede, tapi kayaknya kamu menang.”

Malam itu adalah malam pertama dari tiga puluh malam yang akan mengubah hidupku selamanya.

Tante Dinda mengoral aku di kursi yang sama di mana dia tadi masturbasi. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menari di setiap inci, tangannya memainkan bola-bolaku dengan lembut. Aku keluar di mulutnya dalam waktu kurang dari lima menit—dan Tante menelan semuanya sambil menatapku penuh kemenangan.

Setelah itu dia menarikku ke kamarnya di lantai dua—kamar besar dengan ranjang kayu ukir, jendela besar menghadap gunung, dan kasur empuk beraroma lavender. Kami bercinta sampai subuh. Tante mengajarkanku segalanya: cara mencium leher yang bikin perempuan lemas, cara memainkan puting dengan lidah, cara menemukan G-spot dengan jari, dan bagaimana membuat perempuan squirting.

Pagi harinya aku bangun dengan Tante masih tidur telanjang di sampingku, spermaku masih mengering di paha dan perutnya. Dia tersenyum saat membuka mata.

“Mulai hari ini, kamu nggak tidur di kamar tamu lagi. Tidur sini sama Tante.”

Dan begitulah selama 30 hari berikutnya.

Pagi: wake-up blowjob dari Tante, lalu mandi bareng di kamar mandi outdoor sambil bercinta berdiri di bawah pancuran air dingin gunung.

Siang: kami telanjang bulat berkeliling rumah—masak, nyanyi, yoga, semua tanpa sehelai benang. Tante suka sekali aku mengambilnya dari belakang di dapur sambil dia mengaduk sayur.

Malam: eksperimen tanpa batas.
Hari ke-14 kami coba bondage—Tante mengikat tanganku ke tiang ranjang dengan syal sutra, lalu naik di atasku sampai aku menangis minta keluar.
Hari ke-19 kami main di dek atas saat gerimis—air hujan dan keringat bercampur, Tante orgasme sambil berdiri di railing kayu.
Hari ke-25 Tante membawa home waxing kit—dia mencukurku sampai bersih, lalu aku mencukurnya sampai plontos. Kami bercinta di depan cermin besar sambil mengagumi tubuh satu sama lain yang sekarang sama-sama licin.

Hari ke-28 adalah puncaknya.

Tante Dinda bilang dia punya kejutan. Malam itu dia memakai lingerie hitam transparan, stoking jaring, dan high heels merah. Dia membawaku ke ruang bawah tanah yang selama ini terkunci—ternyata ada sex dungeon kecil: sex swing, cermin di langit-langit, berbagai macam toy.

Kami bermain sampai pagi. Tante memasang nipple clamp padaku, aku memakaikan vibrator remote padanya dan mengontrolnya sambil dia merangkak di lantai. Kami bercinta di sex swing—posisi yang membuat aku bisa masuk sedalam mungkin. Tante squirting berkali-kali sampai lantai basah.

Puncaknya, Tante memintaku melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan dengan siapa pun: anal.

“Tante mau kasih semua lubang buat kamu, Kan. Kamu yang pertama.”

Kami melakukannya pelan-pelan, dengan banyak pelumas dan kesabaran. Saat akhirnya aku masuk sepenuhnya, Tante menangis—bukan karena sakit, tapi karena terlalu nikmat. Kami orgasme bersamaan, aku mengisi dia dari belakang sementara tangannya sibuk dengan vibrator di depan.

Hari ke-30, aku sudah mendapat pekerjaan baru di Bandung dan harus pindah. Pagi itu kami tidak tidur sama sekali. Kami bercinta dari jam 3 subuh sampai jam 10 pagi—di ranjang, di sofa, di tangga, di teras. Tubuh kami penuh bekas cupangan dan goresan kuku.

Saat aku mau masuk mobil, Tante Dinda memelukku lama sekali di depan pintu.

“Rumah ini selalu terbuka buat kamu, kapan pun kamu mau. 30 hari ini… Tante nggak akan pernah lupa.”

Aku menciumnya dalam-dalam, lalu berbisik,
“Aku akan balik tiap akhir pekan, Tan. Janji.”

Tante tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Sekarang, setiap Jumat malam aku selalu naik ke Cisarua. Rumah kayu itu selalu hangat, selalu wangi lavender dan sereh, dan Tante Dinda selalu menungguku di pintu—tanpa sehelai benang pun.

30 hari itu bukan akhir.
Itu baru permulaan.

Leave a Comment