Verification: a25133a91a4eb45a

Rahasia Lantai 17 – Apartemen yang Tak Pernah Sepi

Rahasia Lantai 17 – Apartemen yang Tak Pernah Sepi

Rahasia Lantai 17 – Apartemen yang Tak Pernah Sepi

Aku (Raka, 19 tahun) baru saja pindah ke Jakarta untuk kuliah. Orang tua menitipkan aku ke Tante Vina—tante jauh dari garis papa, umur 38 tahun, janda kaya yang tinggal sendirian di apartemen penthouse lantai 17 di kawasan SCBD. Katanya cuma sementara, sambil aku cari kosan.

Tapi dari hari pertama aku sudah tahu ini tidak akan sementara.

Tante Vina bukan tante biasa. Dia tinggi (hampir 170 cm tanpa heels), berkulit putih susu, rambut cokelat ombre panjang sampai pinggang, dan tubuh yang… berbahaya. Payudara 36D yang masih kencang, pinggang 24, pinggul 38. Dia selalu pakai baju rumah yang “kebetulan” terlalu kecil: tank top ketat tanpa bra, hot pants denim yang nyaris tak menutupi bokong, atau daster satin yang transparan kalau terkena cahaya lampu.

Malam pertama aku tidur di kamar tamu sebelah kamarnya. Dindingnya tipis. Jam 1 malam aku terbangun karena suara samar—erangan pelan, ranjang berderit, dan suara vibrator yang khas. Aku diam-diam membuka pintu kamar, mengintip dari celah. Pintu kamar Tante Vina terbuka sedikit. Dia telanjang bulat di ranjang, kaki terbuka lebar, vibrator besar berwarna pink masuk-keluar dengan cepat, tangan satunya meremas payudaranya sendiri. Wajahnya—mata terpejam, bibir menggigit bantal, keringat di dada—membuatku langsung keras.

Aku kembali ke kamar, tapi tidak bisa tidur. Setengah jam kemudian pintu kamarku diketuk pelan.

“Raka… kamu belum tidur kan?” suara Tante Vina lembut tapi serak.

Dia masuk pakai kimono pendek hitam yang cuma diikat longgar. Cahaya lampu tidur menerangi putingnya yang terlihat jelas di balik kain tipis.

“Tante tadi… agak susah tidur,” katanya sambil duduk di pinggir ranjangku. “Kamu denger ya?”

Aku cuma mengangguk, tenggorokan kering.

Dia tersenyum kecil, lalu tiba-tiba membuka ikatan kimono-nya. Telanjang lagi. Tubuhnya lebih sempurna dari yang aku bayangkan: tidak ada satu lembut pun yang salah tempat.

“Kalau kamu mau, kita bisa saling bantu. Tanpa orang lain tahu. Cuma kita berdua di lantai 17 ini.”

Aku tidak sempat jawab. Dia sudah menarik selimutku, melihat penisku yang tegang di balik boxer. Matanya berbinar.

“Gila… masih muda kok sudah segini…”

Malam itu jadi malam pertama dari banyak malam yang membuatku lupa jalan pulang.

Dia memanjat ke atasku, menciumku dalam-dalam, lidahnya bermain liar. Tangannya membuka boxerku, lalu langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya—basah, panas, lidahnya berputar-putar di kepala. Aku mengerang keras. Dia tersedak sedikit karena dalam sekali, tapi malah semakin ganas. Dalam tiga menit aku sudah mau keluar, tapi dia berhenti, menatapku nakal.

“Belum. Tante mau yang asli dulu.”

Dia naik ke atas, memegang penisku, lalu menurunkan pinggulnya pelan. Begitu kepala masuk, dia mengerang panjang. Vaginanya ketat luar biasa, seperti baru pertama kali. Dia terus turun sampai habis, lalu diam sejenak, menikmati rasa penuh.

“Enak banget… udah lama tante nggak beginian…”

Lalu dia mulai bergerak—lambat dulu, gerakan melingkar yang membuatku gila. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku langsung mengulum putingnya keras-keras. Dia mempercepat, naik-turun dengan keras sampai ranjang berderit keras. Keringat mulai menetes dari lehernya ke dadaku.

Aku membalikkan tubuhnya, sekarang aku di atas. Aku masuk lagi dengan satu dorongan keras. Dia menjerit kecil, kuku mencakar punggungku. Aku memompa cepat, dalam, setiap tusukan membuat tubuhnya berguncang. Dia orgasme pertama—vaginanya berdenyut kuat, cairannya membasahi sprei.

Tapi itu baru permulaan.

Selama sebulan aku tinggal di sana, apartemen lantai 17 jadi dunia kami sendiri.

Setiap pagi sebelum kuliah, dia membangunkanku dengan blowjob di bawah selimut—perlahan, basah, sampai aku keluar di mulutnya dan dia menelan semuanya sambil tersenyum.

Setiap malam aku pulang, dia sudah menunggu dengan pakaian berbeda: hari Senin maid costume lengkap dengan stocking, Selasa lingerie merah dengan tali-tali, Rabu telanjang bulat cuma pakai high heels dan kalung choker bertulis “Mommy’s Boy”.

Kami melakukannya di mana saja:

  • Di sofa kulit putih besar sambil nonton porn di TV 85 inci
  • Di dapur marmer—dia duduk di island counter, kaki terbuka, aku berdiri di antara kakinya
  • Di shower kamar mandi utama yang punya tujuh shower heads—dia menempel di kaca, air panas mengalir, aku dari belakang
  • Di balkon malam-malam—dia membungkuk di pagar kaca, angin Jakarta malam menerpa tubuh telanjang kami, lampu-lampu kota jadi saksi
  • Bahkan di gym pribadi—dia di atas treadmill yang masih jalan pelan, aku masuk dari belakang sambil memegang pinggulnya

Satu malam yang tak akan pernah aku lupa:

Dia mengajakku ke walk-in closet-nya yang sebesar kamar. Lampu redup otomatis menyala. Di tengah ada sofa bulat besar. Dia membuka laci rahasia—penuh dengan sex toys: dildo berbagai ukuran, butt plug berlian, vibrator remote, strap-on, tali pengikat, blindfold, hingga cambuk kecil kulit.

“Malam ini tante mau main kasar,” katanya sambil memasang choker kulit di lehernya sendiri.

Aku mengikat tangannya ke tiang baju dengan tali sutra merah. Lalu aku memasang nipple clamps dengan rantai—dia mengerang setiap kali aku tarik rantainya. Aku memasukkan remote vibrator ke dalam vaginanya, setting ke level tertinggi. Tubuhnya langsung kejang, lutut gemetar.

Aku memasuki dia dari belakang sambil vibrator masih menyala di dalam—rasanya ganda, penuh, liar. Setiap dorongan membuat vibrator bergesek di dinding vaginanya dan kepala penisku. Dia orgasme berkali-kali sampai nangis, make-up luntur, suara serak memohon aku berhenti… tapi kakinya malah semakin mendorong ke belakang minta lebih keras.

Akhirnya aku melepas ikatannya, membaringkannya di sofa bulat itu, dan memasuki dia lagi—kali ini pelan, dalam, tatap mata. Kami berciuman lama sambil aku keluar di dalamnya untuk kelima kalinya malam itu.

Setelah itu dia meringkuk di dadaku, jari menelusuri bekas cakaran di punggungku.

“Raka… tante nggak mau kamu pindah kosan. Tinggal di sini aja terus sama tante.”

Aku cuma tersenyum, mencium keningnya yang basah keringat.

Dua tahun kemudian aku masih tinggal di lantai 17. Kuliah selesai, kerja remote, dan setiap malam apartemen itu bergema suara Tante Vina yang memanggilku “sayang” dengan nada yang sama seperti malam pertama.

Kadang temen kuliah nanya kenapa aku nggak pernah mau nongkrong malam. Aku cuma bilang:

“Ada urusan keluarga di lantai 17.”

Mereka nggak akan pernah tahu urusan apa yang bikin aku nggak bisa jalan straight selama seminggu penuh setiap bulannya.

Dan aku nggak berniat ceritain.

TAMAT. 🏙️🔥

Leave a Comment