Verification: a25133a91a4eb45a

Pramugari Tetangga

Pramugari Tetangga

Pramugari Tetangga
Namanya Tante Caca.
31 tahun, pramugari maskapai internasional. Tinggi 170 cm, badan langsing tapi berisi di tempat yang tepat: dada 34C kencang, pinggang kecil, bokong bulat tinggi karena sering pakai heels 12 cm di pesawat. Kulitnya putih bersih, rambut hitam panjang lurus, selalu pakai lipstik merah bold meski lagi santai di rumah.

Dia pindah ke rumah sebelah kosongku enam bulan lalu. Aku (Raffi, 19 tahun) kuliah semester 5, sering sendirian karena orang tua kerja di luar kota.

Pertama kali kenal pas dia baru pindah, lagi bawa koper besar sendirian. Aku bantu angkat. Dia pakai kaus oversized putih tanpa bra (putingnya samar terlihat) dan hot pants denim pendek banget. Bau parfumnya mahal langsung bikin pusing.

“Terima kasih ya, Dek… tante baru pindah, masih sendiri,” katanya sambil tersenyum, mata sedikit menggoda.

Sejak itu kami sering ngobrol lewat pagar. Dia sering cerita jadwal terbangnya, aku cerita kuliah. Tapi tatapannya selalu lama, selalu ada senyum kecil di ujung bibir.

Satu malam dia pulang larut dari penerbangan panjang, sekitar jam 2 pagi. Aku lagi di teras main HP, lihat dia turun dari taksi pakai seragam pramugari lengkap: kemeja putih ketat, rok pensil merah, stocking hitam, heels, syal merah di leher. Rambut disanggul rapi, tapi wajahnya capek.

Dia melambai, lalu tiba-tiba tersandung heels-nya. Aku langsung lari bantu.

“Capek banget… boleh numpang duduk di teras kamu sebentar nggak, Raf?”

Aku angguk. Dia duduk di kursi teras, melepas heels-nya, menggosok kaki. Stocking hitam tipis, kaki jenjang mulus. Aku nggak bisa ngomong.

Dia tiba-tiba menarik kakiku, meletakkan di pangkuannya, mulai mijit pelan.

“Kamulah yang capek kuliah terus… tante yang mijitin.”

Tangan dia naik perlahan dari betis ke paha. Jari-jarinya dingin dari AC taksi, bikin merinding. Aku sudah keras dari tadi.

Dia tersenyum lihat tonjolan di celanaku.

“Wah… ada yang bangun nih.”

Tanpa banyak bicara, dia menarikku masuk ke rumahku yang kosong. Lampu ruang tamu cuma nyala lampu tidur kuning. Dia mendorongku ke sofa, lalu naik ke pangkuanku, masih pakai seragam lengkap.

Dia menciumku ganas, lidahnya masuk dalam-dalam. Tangannya membuka resletingku, mengeluarkan penisku, matanya langsung berbinar.

“Gila… gede banget… tante jarang ketemu yang segini.”

Dia turun, berlutut di karpet, lalu menelan seluruhnya—dalam sekali, tenggorokannya terlatih. Dia bisa deep throat tanpa tersedak, mata menatapku sambil mulutnya naik-turun cepat. Aku hampir keluar, tapi dia berhenti, tersenyum.

Dia berdiri, membuka kancing kemeja perlahan—satu per satu—sampai terbuka semua. Bra merah lace, payudaranya kencang sempurna. Lalu dia membuka rok—hanya g-string merah dan stocking hitam.

Dia naik lagi, menggosok vaginanya ke penisku di atas kain, masih pakai g-string.

“Masih pakai seragam… enak nggak?”

Aku cuma bisa mengerang. Dia menyingkirkan g-string ke samping, lalu menurunkan pinggulnya—masuk satu dorongan sampai habis. Dia mengerang keras, kepala terdongak, tangan memegang sandaran sofa.

“Enak banget… pramugari tante capek terbang… sekarang naik yang beneran…”

Dia mulai bergerak—naik-turun cepat, payudaranya bergoyang liar di balik bra. Aku buka bra-nya, hisap putingnya keras-keras. Dia semakin gila, suara mengerangnya campur bahasa Inggris “yes… harder… fuck me…”

Aku balik menindihnya di sofa, masuk lagi dari atas. Stocking-nya masih terpakai, heels entah ke mana. Aku pompa keras, sofa bergoyang, syal merahnya masih melilit leher. Dia orgasme pertama—badannya kejang, cairannya banjir.

Tapi malam itu baru mulai.

Setelah itu setiap dia pulang terbang malam, ritual sama.

Kadang dia datang pakai seragam lengkap, langsung masuk kamar aku tanpa ketuk pintu, naik ke ranjang, minta aku “bantu lepas seragam” satu per satu sambil dia naik di atasku.

Kadang dia pakai piyama satin pendek, datang jam 3 pagi karena jetlag, bangunin aku dengan mulut, lalu minta doggy di lantai.

Satu malam paling gila:

Dia baru pulang dari penerbangan 14 jam, masuk rumahku langsung tanpa ganti baju—seragam kusut, rambut awut-awutan, tapi malah tambah seksi. Dia bawa koper kecil, buka di ruang tamu—isinya sex toys yang dia beli di duty free: vibrator, dildo, handcuff, blindfold, bahkan strap-on.

“Malam ini tante mau main full uniform… kamu ikut tante ya.”

Dia suruh aku pakai seragam pilot pinjaman (punya temen pramugarinya), dia tetap seragam pramugari. Kami roleplay di ruang tamu—dia “melayani penumpang VIP” di first class.

Dia berlutut, blowjob sambil mata menatap “Captain…”, lalu naik ke pangkuanku, gerakan seperti turbulence—naik-turun liar. Kami pindah ke meja makan—dia telentang, kaki di bahuku, heels masih dipakai, aku masuk sambil pegang syal merahnya seperti tali kekang.

Lalu dia minta diikat tangannya pakai syal ke tiang tangga, aku mainkan dia pakai vibrator sambil masuk dari belakang. Dia squirt berkali-kali sampai lantai basah.

Terakhir dia pakai strap-on, balik “melayani” aku—tapi itu cerita lain.

Sekarang setiap dia ada jadwal terbang panjang, aku selalu dapat WA:

[Tante Caca 🛫]
Landing jam 01.20. Jangan tidur. First class butuh pelayanan ekstra.

Dan aku selalu siap di rumah—lampu dimatikan, pintu nggak dikunci, celana sudah dilepas dari jam 12.

Karena pramugari tetangga nggak pernah capek melayani penumpang favoritnya.

TAMAT. ✈️🔥

Leave a Comment