Verification: a25133a91a4eb45a

Dokter Kandungan Mama

Dokter Kandungan Mama

Dokter Kandungan Mama
Namaku Arya, 19 tahun.
Mama punya dokter kandungan langganan sejak aku kecil: dr. Lita Mahendra, Sp.OG. Usia 37 tahun, cantik tenang, suara lembut, selalu pakai jas putih yang pas badan. Dada besar tapi proporsional, pinggang kecil, kaki panjang, selalu pakai heels 7 cm meski di klinik. Rambutnya hitam lurus sebahu, kacamata tanpa bingkai, bibir penuh yang selalu diwarnai nude glossy.

Mama minta aku antar kontrol rutin karena supir libur. Aku duduk di ruang tunggu, nggak nyangka bakal jadi hari yang mengubah segalanya.

Pas giliran mama masuk ruang periksa, dr. Lita keluar sebentar, tersenyum ke aku.

“Arya ya? Sudah besar sekali. Masih ingat tante waktu kecil?”

Aku cuma bisa nyengir kaku. Mataku langsung turun ke kancing jas yang agak ketat di bagian dada.

Mama keluar 20 menit kemudian, bilang harus beli obat di apotek sebelah, suruh aku tunggu. Pintu ruang periksa tertutup, lampu “sedang periksa” mati. Aku duduk lagi, bengong.

Tiba-tiba pintu ruang periksa terbuka sedikit. dr. Lita mengintip.

“Arya… masuk sebentar dong, bantu tante angkat kotak obat.”

Aku masuk. Ruang periksa kosong. Lampu utama dimatikan, hanya lampu kecil di meja dan lampu USG yang biru. Dia menutup pintu, mengunci pelan.

“Tante bohong… nggak ada kotak obat,” katanya sambil tersenyum nakal yang sama sekali nggak mirip dokter biasanya.

Dia melepas jas putihnya perlahan. Di dalamnya cuma bra putih renda dan rok pensil hitam ketat. Payudaranya terlihat penuh, bra-nya nyaris nggak cukup menahan.

“Tante perhatikan kamu dari tadi… matanya nggak bisa bohong.”

Dia mendekat, menciumku pelan dulu, lalu ganas. Lidahnya masuk, tangannya langsung meremas selangkanganku.

“Gede banget… masih mahasiswa kok udah gini…”

Dia mendorongku ke ranjang periksa yang dilapisi kertas sekali pakai. Kertas itu berderit setiap kali aku gerak. Dia membuka roknya—hanya g-string putih kecil. Dia naik ke atas ranjang, mengangkangi wajahku.

“Sebelum tante periksa kamu… kamu periksa tante dulu.”

Dia menurunkan g-string ke samping, vaginanya tepat di atas mulutku—sudah basah, bau manis khas dokter yang selalu wangi. Aku menjilat rakus. Dia mengerang pelan, tangan memegang tiang ranjang, pinggulnya bergoyang.

Dalam lima menit dia orgasme—cairannya banyak, menetes ke daguku. Dia turun, membuka celanaku, matanya membelalak lihat penisku.

“Pasien tante kali ini… spesial.”

Dia naik lagi, kali ini menghadapku, memasukkan sendiri—pelan, dalam, sampai habis. Matanya terpejam, bibir menggigit bawah.

“Enak banget… tante jarang banget beginian…”

Dia mulai bergerak—lambat dulu, gerakan melingkar seperti tahu persis titik mana yang enak. Ranjang periksa berderit keras. Payudaranya bergoyang di balik bra, aku buka kaitannya—terbebas, besar, puting cokelat muda keras.

Aku balik menindihnya, masuk lagi dari atas. Kaki dia melingkar di pinggangku, heels-nya masih dipakai, menusuk punggungku sedikit—malah tambah hot. Aku pompa keras, dia mengerang tanpa suara malu lagi.

“Di dalam… tante aman… keluarin semua…”

Aku meledak—panas, banyak, memenuhi dia. Dia orgasme lagi, badannya kejang, kuku mencakar punggungku.

Kami napas tersengal. Tapi itu baru permulaan.

Setelah itu dr. Lita jadi “dokter pribadi”ku.

Setiap mama kontrol, aku selalu ikut. Mama masuk periksa, aku “dititip” di ruang tunggu. Lima menit kemudian dr. Lita keluar, bilang “sebentar ya Bu, tante pinjam Arya bantu sesuatu”.

Kami masuk ke ruang USG yang lebih gelap. Dia suka pakai alat USG sambil aku masuk dari belakang—katanya suka lihat gelombang detak jantungnya naik turun pas orgasme.

Pernah dia pakai sarung tangan latex, olesin gel USG ke penisku, lalu suruh aku masuk pelan sambil dia pegang probe USG di perut bawahnya—dia bilang mau lihat seberapa dalam aku masuk lewat layar. Gila.

Satu hari yang nggak akan aku lupa:

Mama lagi USG kehamilan adik (kehamilan ketiga), dr. Lita bilang harus detail, mama harus tidur dulu pakai obat bius ringan. Mama tertidur di ranjang periksa.

dr. Lita menutup tirai, lalu menarikku ke ruang sebelah yang cuma dipisah kaca satu arah. Dari sana kami bisa lihat mama tidur, tapi mama nggak bisa lihat kami.

Dia membungkuk di kaca, tangan menempel kaca, bokong terdorong ke belakang.

“Sekarang… tante mau kamu isi sambil mama tidur di sebelah.”

Aku masuk dari belakang, pompa pelan dulu, lalu keras. Kaca bergetar pelan. Dia tutup mulutnya sendiri biar nggak keras. Kami orgasme bareng sambil lihat mama tidur pulas nggak tahu apa-apa.

Setelah itu setiap kontrol mama, dr. Lita selalu kasih “bonus” buat aku di ruang sebelah.

Sekarang aku sudah nggak ikut mama lagi—aku datang sendiri, bikin janji “konsultasi pria” jam 7 malam setelah klinik tutup.

Ruang periksa jadi kamar pribadi kami. Dia suka pakai jas dokter doang tanpa apa-apa di dalam, stetoskop masih menggantung di leher saat aku masuk dari belakang.

Dan setiap kali selesai, dia selalu bilang kalem sambil rapiin jas:

“Pasien sehat. Besok kontrol lagi ya.”

Aku selalu datang lagi.

Karena resep dari dr. Lita… nggak pernah cukup satu kali tebus.

TAMAT. 🩺🔥

Leave a Comment