Verification: a25133a91a4eb45a

Iparku Malam Pertama

Iparku Malam Pertama

Iparku Malam Pertama
Namanya Tante Riri.
35 tahun, baru tiga bulan nikah sama omku yang kerja di kapal pesiar—jarang pulang. Tubuhnya tiptop: tinggi 165 cm, dada 34D, pinggang kecil, bokong sempurna karena dulu atlet senam artistik. Rambutnya cokelat panjang bergelombang, selalu pakai parfum manis yang bikin orang pengen dekat terus.

Kami sekeluarga besar nginep di villa Bogor buat ulang tahun nenek. Malam hari semua tidur, aku (Fikri, 19 th) terbangun haus. Turun ke dapur, lampu temaram. Tante Riri lagi ambil air, pakai baby doll putih transparan pendek banget—hanya tali spagheti, tanpa bra, tanpa celana dalam. Putingnya cokelat muda keras karena dingin, bokongnya bulat terlihat jelas dari samping.

Dia nengok, kaget, tapi malah tersenyum kecil.

“Fik… kamu juga belum tidur?”

Aku cuma bisa mengangguk. Mataku nggak bisa lepas dari tubuhnya yang diterangi lampu kulkas.

Dia mendekat, meletakkan gelas di meja, lalu memelukku pelan dari samping. Payudaranya menempel di lenganku.

“Om kamu nggak ada… tante kesepian banget, Fik…”

Suara bisiknya bikin bulu kudukku berdiri. Sebelum aku sadar, bibirnya sudah di leherku, tangannya masuk ke bawah kausku.

Dari situ semuanya lelet jalannya—like slow motion yang panas banget.

Dia menarikku ke ruang karaoke yang gelap di basement villa. Lampu neon biru-merah menyala redup. Musik slow masih menyala pelan dari tadi malam. Dia menutup pintu, mengunci, lalu mendorongku ke sofa kulit panjang.

Dia naik ke pangkuanku, baby doll naik sampai pinggang. Vaginanya langsung menempel di celana pendekku—basah sekali. Dia menggoyang pelan sambil menciumku dalam-dalam, lidahnya bermain liar.

“Fik… tante udah lama nggak beginian… boleh ya malam ini?”

Aku cuma bisa mengangguk. Dia tersenyum, lalu turun, membuka celanaku perlahan. Penisku berdiri tegak, sudah basah di ujung. Dia menatap lama, lalu menjilat satu kali dari bawah sampai atas—lambat, basah, mata menatapku.

Lalu dia menelan seluruhnya sampai pangkal. Tenggorokannya hangat, lidahnya berputar-putar. Aku hampir keluar, tapi dia berhenti, tersenyum jahat.

“Belum… tante mau yang beneran dulu.”

Dia berdiri, menarik baby doll lewat kepala—telanjang bulat. Tubuhnya seperti patung, kulitnya putih mulus, hanya ada tato kecil mawar merah di atas vagina yang dicukur rapi.

Dia naik lagi, memegang penisku, lalu menurunkan pinggulnya pelan. Begitu masuk, dia mengerang panjang, mata terpejam, tangan memegang bahuku kuat-kuat.

“Gila… gede banget… pelan-pelan dulu ya sayang…”

Kami bergerak pelan dulu, seperti menikmati setiap senti. Lalu dia mulai mempercepat, pinggulnya berputar-putar seperti penari. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku hisap bergantian, gigit pelan putingnya sampai dia merem melek.

Dia orgasme pertama—badannya kejang, vaginanya memilin kuat sekali. Cairannya banyak, membasahi sofa kulit.

Tapi malam masih panjang.

Kami pindah ke karpet tebal. Dia pose doggy, bokong terangkat tinggi, tangan meraih kaki sofa. Aku masuk dari belakang—dalam sekali. Dia menjerit kecil, lalu minta lebih keras. Aku pompa ganas, suara benturan kulit terdengar keras di ruang karaoke. Rambutnya aku tarik pelan, dia semakin liar.

Lalu dia balik, kaki di bahuku—posisi deep. Aku masuk lagi, kali ini lebih dalam. Dia cuma bisa mengerang, mata berkaca-kaca, tangan meremas payudaranya sendiri.

“Di dalam… keluarin semua di dalam ipar…”

Aku meledak—rasanya nggak berhenti, panas, banyak sekali. Dia orgasme lagi bersamaan, kakinya gemetar hebat.

Kami ambruk di karpet, napas tersengal. Tapi itu baru ronde pertama.

Sepanjang malam kami nggak tidur.

  • Ronde 2 di sofa lagi—dia naik di atasku, gerakan lambat sensual, kami saling tatap mata sambil berbisik mesum
  • Ronde 3 di meja biliar—dia telentang di atas meja hijau, kaki terbuka, bola-bola biliar bergoyang setiap aku dorong
  • Ronde 4 di kaca besar—dia menempel dada ke kaca dingin, aku dari belakang, kami lihat pantulan tubuh telanjang yang basah keringat
  • Ronde 5 pagi menjelang—di lantai, posisi spooning, aku masuk pelan dari belakang sambil peluk dia erat-erat, cium lehernya sampai dia orgasme pelan bergetar-getar

Paginya semua bangun tidur, kami berpura-pura biasa aja di meja sarapan. Tapi setiap Tante Riri lewat di belakangku, tangannya pelan usap bokongku. Setiap aku lewat dia, jari ku sengaja sentuh pinggulnya.

Malam terakhir di villa, semua tidur lagi. Dia kirim WA:

[Tante Riri ❤️]
Kamar mandi lantai 2. Sekarang.

Aku datang. Dia sudah nunggu di shower, air hangat mengalir, telanjang bulat. Kami melakukannya di bawah pancuran—dia menempel di dinding ubin, satu kaki diangkat, aku masuk dari depan. Air dan keringat bercampur, suara kami tertutup deru air.

Sebelum pulang ke Jakarta, di parkiran villa, dia peluk aku lama di balik mobil.

“Om kamu pulang dua bulan lagi… rumah tante selalu terbuka buat ponakan kesayangan.”

Sekarang setiap omku berlayar, aku selalu “mampir” ke rumah Tante Riri—katanya bantu beresin kebun. Padahal kami beresin nafsu yang nggak pernah selesai.

Dan setiap kali omku video call dari kapal, Tante Riri duduk di pangkuanku—di luar frame kamera tentu saja—sambil aku masuk pelan dari belakang. Dia tersenyum manis ke kamera, bilang “kangen banget” ke suaminya.

Sementara aku dalam-dalam di dalam istrinya.

Keluarga bahagia.

Tapi aku yang paling bahagia.

TAMAT. 💍🔥

Leave a Comment