Verification: a25133a91a4eb45a

Mbak Pembantu Baru

Mbak Pembantu Baru

Mbak Pembantu Baru
Namanya Ningsih.
23 tahun, dari Brebes, baru tiga hari kerja jadi pembantu di rumah kami. Tinggi 160 cm, kulit sawo matang mulus, rambut panjang hitam selalu dikuncir, badan montok di tempat yang tepat: dada besar (pasti 36D), pinggang kecil, bokong bulat penuh yang selalu bergoyang saat nyapu. Dia pakai daster bunga-bunga tipis yang pendek banget—katanya biar nggak gerah.

Orang tua dan adikku lagi ke luar kota seminggu. Tinggal aku (Rey, 19 tahun) dan Ningsih di rumah besar dua lantai.

Hari pertama mereka pergi, malam hari, aku turun ambil air. Lampu dapur cuma nyala lampu kecil. Ningsih lagi nyuci piring, daster basah di bagian dada sampai putingnya tembus pandang. Dia nengok, kaget, tapi malah tersenyum malu-malu.

“Mbak lagi nyuci piring ya?”
“Iya, Mas Rey… maaf daster Mbak basah…”

Aku cuma bengong lihat bentuk payudaranya yang jelas banget. Dia malah melengos sedikit, pura-pura nggak tahu aku lagi ngeliatin.

Malam kedua lebih parah.

Aku lagi nonton TV di ruang keluarga, lampu dimatikan. Ningsih datang bawa nampan teh, daster kali ini yang warna pink muda, tanpa bra lagi. Dia membungkuk pas ngasih teh—aku bisa lihat seluruh belahan dadanya sampai ke puting cokelatnya.

Dia duduk di sofa sebelahku, pura-pura nanya acara TV sambil selonjoran. Daster naik sampai pangkal paha. Aku lihat dia nggak pakai celana dalam—garis vaginanya samar-samar kelihatan.

“Mas Rey… Mbak boleh duduk sini nggak? Takut sendirian…”

Aku mengangguk. Jantungku udah deg-degan.

Tiba-tiba dia merapat, kepalanya nyender di bahuku. Bau sabun colek dan parfum murahannya malah bikin nafsu. Tangannya pelan-pelan masuk ke bawah kausku, ngusap perutku.

“Mas Rey… Mbak dari desa, jarang ketemu cowok ganteng kayak Mas… boleh Mbak… coba-coba?”

Sebelum aku jawab, dia sudah naik ke pangkuanku, daster naik sampai pinggang. Benar—nggak pakai celana dalam. Vaginanya sudah basah, menempel langsung di celanaku.

Dia menciumku ganas, lidahnya masuk langsung. Tangannya membuka resletingku, mengeluarkan penisku, matanya langsung membelalak.

“Gede banget… Mas Rey masih muda kok segini…”

Dia langsung turun, berlutut di karpet, dan menelan seluruhnya dalam satu gerakan. Mulutnya panas, basah, lidahnya berputar liar. Aku cuma bisa pegang kepalanya sambil mengerang.

Lima menit kemudian dia naik lagi, memegang penisku, lalu menurunkan pinggulnya pelan. Begitu masuk, dia mengerang keras, mata terpejam.

“Sakit… tapi enak… gede banget…”

Dia mulai naik-turun pelan, payudaranya bergoyang hebat di balik daster tipis. Aku buka kancing daster depannya—payudaranya terbebas, besar, berat, puting besar cokelat tua. Aku remas keras, hisap bergantian. Dia semakin cepat, suara “plok plok plok” basah terdengar keras di ruang keluarga.

Aku balik menindihnya di sofa, masuk lagi dari atas. Dia melingkarkan kakinya di pinggangku, minta lebih dalam. Aku pompa keras, sofa bergoyang, dia mengerang tanpa malu lagi.

“Di dalam ya Mas… Mbak aman… keluarin semua di dalam Mbak…”

Aku meledak—banyak sekali, terasa hangat memenuhi dia. Dia orgasme bersamaan, badannya kejang, kuku mencakar punggungku.

Kami berdua napas tersengal. Tapi itu baru malam kedua.

Sisa lima hari rumah kosong jadi neraka kenikmatan.

Setiap pagi dia bangunin aku dengan mulut—perlahan, basah, sampai aku keluar di wajahnya, lalu dia tersenyum dan pergi masak sarapan kayak nggak ada apa-apa.

Siang hari dia nyapu sambil sengaja bongkahan, aku tarik ke kamar pembantu, angkat daster, masuk dari belakang sambil dia pegang sapu.

Malam hari jadi waktu bebas:

  • Di kolam renang belakang rumah—dia telanjang bulat, aku angkat dia di pinggir kolam, masuk sambil air berdesir
  • Di garasi—dia duduk di kap mobil BMW papa, kaki terbuka, aku berdiri di depannya
  • Di tangga—dia naik tangga pelan, aku ikut dari belakang, masuk setiap langkah
  • Di kamar orang tua—dia minta di ranjang king size mereka, pose doggy sambil lihat cermin besar

Hari terakhir sebelum orang tua pulang, dia minta “kenang-kenangan spesial”.

Malam itu dia pakai kebaya putih tipis tanpa kutang, kain jarik cokelat, rambut disanggul. Dia bilang mau jadi “pengantin desa” buat aku.

Kami mulai dari ruang tamu—dia menari jaipong pelan sambil buka kebaya satu per satu. Payudaranya terbebas, lalu kain jariknya jatuh. Dia telanjang cuma pakai anting dan gelang kunci.

Kami pindah ke kamar utama. Dia minta diikat tangannya ke tiang ranjang pakai kain jarik. Lalu aku mainkan dia pakai es batu dari kulkas, lidah, dan jari sampai dia menggeliat minta ampun.

Baru aku masuk—perlahan dulu, lalu ganas. Dia mengerang dalam dialek Jawa yang bikin tambah nafsu. Kami ganti posisi berkali-kali: missionary, cowgirl, spooning, standing, sampai akhirnya dia minta diangkat berdiri sambil aku masuk dari belakang, kakinya melingkar di pinggangku.

Aku keluar terakhir kali di dalamnya—banyak sekali, sampai tumpah ke paha. Dia menciumku lama, mata berkaca-kaca.

“Kalau Mas Rey kangen… Mbak selalu siap. Orang tua pulang juga nggak apa-apa, Mbak bisa masuk kamar Mas Rey malam-malam…”

Orang tua pulang besoknya.

Tapi sampai sekarang, setiap malam jam 1–2 pintu kamar aku diketuk pelan.

Dan setiap pagi aku bangun dengan badan pegal, sprei basah, dan senyum Ningsih yang bawa sarapan sambil bisik:

“Selamat pagi, Mas Rey… malam ini lagi ya?”

Rumah jadi lebih bersih dari sebelumnya.

Dan aku jadi anak paling rajin bantu nyapu.

TAMAT.

Leave a Comment