Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Yoga

Tante Yoga

Tante Yoga

Aku (Dani, 19 tahun) sedang libur kuliah panjang. Mama nyuruh ikut kelas yoga privat di rumah Tante Sasha—teman mama sejak SMA yang sekarang jadi instruktur yoga terkenal di Instagram. Tante Sasha 39 tahun, bercerai dua tahun lalu, tubuhnya… seperti patung Yunani yang hidup. Bahu kecil, payudara penuh, perut six-pack halus, bokong kencang tinggi karena tiap hari downward dog dan squat. Rambutnya cokelat wavy panjang, selalu diikat ponytail tinggi saat mengajar.

Hari pertama kelas, dia buka pintu pakai crop top olahraga tipis dan legging high-waist abu-abu yang… terlalu ketat. Bentuk bibir vaginanya (camel toe) terlihat jelas. Aku langsung salah tingkah.

“Kelas privat cuma kita berdua ya, Dan. Santai aja,” katanya sambil tersenyum, matanya seperti menahan sesuatu.

Ruang yoga di lantai dua rumahnya full cermin, lantai kayu hangat, aroma lavender dan kayu manis. Musik slow beat India mengalun pelan.

Dia mulai dengan pose-pose ringan. Setiap kali dia memperbaiki posisiku, tangannya menyentuh pinggangku, dada, bahkan paha dalam—terlalu lama untuk sekadar “mengoreksi”.

Saat child’s pose, dia duduk di atas punggungku, pinggulnya menempel tepat di bokongku, gerakannya seperti menggosok pelan.

“Rasakan napasnya… dalam… keluar…” bisiknya di telingaku.

Aku sudah keras dari tadi.

Pas break, dia kasih air dingin dengan potongan lemon. Kami duduk bersila di matras. Keringat menetes di dadanya, masuk ke belahan payudaranya yang terlihat dari crop top.

“Tante perhatiin… kamu tegang banget di bagian bawah,” katanya sambil melirik selangkanganku yang sudah menonjol. “Mau tante bantu relaksasi khusus?”

Aku cuma mengangguk lemas.

Dia mendekat, menciumku pelan dulu, lalu ganas. Lidah kami bertemu, napasnya panas. Tangannya langsung masuk ke celana trainingku, meremas penisku yang sudah basah di ujung.

“Ya Tuhan… gede banget… tante salah pilih murid.”

Dia menarikku berdiri, membawa ke dinding cermin besar. Dia menempelkan punggungnya ke cermin, menarik legging serta celana dalamnya ke bawah sampai lutut dalam satu gerakan. Vaginanya dicukur bersih, sudah mengkilap basah.

Dia mengangkat satu kaki ke bahuku—kelenturan yoga-nya gila—lalu memegang penisku dan mengarahkan sendiri.

Masuk satu dorongan sampai habis. Dia mengerang keras, kepala terdongak, cermin bergetar.

“Pelan dulu… tante mau nikmatin…”

Kami melakukannya berdiri di depan cermin selama 20 menit—aku pompa pelan sambil lihat pantulan dia yang cantik mengerang, payudaranya bergoyang setiap dorongan. Lalu dia minta lebih keras. Aku percepat, tangan meremas bokongnya, kuku dia mencakar punggungku. Dia orgasme pertama—kakinya gemetar hebat, cairannya menetes ke lantai kayu.

Kelas yoga itu berubah total setelah hari pertama.

Setiap sesi jadi alasan untuk seks.

  • Hari Senin: “Hip opener” → dia pose happy baby (kaki terbuka lebar di atas), aku masuk dari atas sambil pegang pergelangan kakinya
  • Hari Rabu: “Core workout” → dia plank, aku dari belakang sambil dia tetap pose plank sampai orgasme dan jatuh
  • Hari Jumat: “Partner yoga” → pose-pose akrobatik yang berakhir dengan aku angkat dia terbalik 69, dia mengulum aku sambil aku makan dia di udara
  • Hari Minggu: “Yin yoga” → pose-pose lama, dia suruh aku masuk pelan dan diam di dalamnya selama 10 menit setiap pose, gerak cuma pinggul kecil—rasanya seperti disiksa kenikmatan

Satu sesi yang paling gila:

Dia mengajak “private retreat” ke studio yoganya yang tutup di hari Sabtu malam. Studio besar, lantai full matras empuk, lampu temaram ungu, suara gamelan dan drum pelan.

Dia pakai one-piece bodysuit yoga hitam dengan zipper depan dari leher sampai selangkangan. Dia suruh aku duduk bersila, lalu dia pose goddess squat tepat di atas penisku—tanpa buka celana dulu, cuma gesek-gesek.

Setelah 15 menit menggoda, dia baru membuka zipper-nya perlahan. Bodysuit terbuka sampai bawah, payudara dan vaginanya terlihat, tapi bodysuit tetap nempel di badan seperti frame hitam seksi.

Dia pose bridge—pinggul diangkat tinggi—lalu suruh aku masuk dari atas sambil dia tetap tahan pose. Setiap kali dia turun, penisku masuk lebih dalam. Kami lakukan itu sampai dia nggak kuat tahan bridge lagi dan ambruk, lalu aku balik menindihnya dan pompa keras sampai studio bergema suara kami.

Setelah itu dia ajak ke ruang shavasana—lampu dimatikan total, hanya lilin kecil di sudut. Dia telentang, kaki terbuka lebar, tangan di atas kepala.

“Tantric night… kita nggak boleh buru-buru keluar. Sambung napas, gerak pelan.”

Kami melakukannya hampir dua jam—gerakan sangat lambat, dalam, mata saling tatap, napas sinkron. Rasanya seperti meditasi yang berakhir dengan orgasme terpanjang yang pernah aku rasakan—dia kejang selama hampir satu menit, vaginanya memilin kuat-kuat sampai aku ikut keluar dalam-dalam.

Libur kuliahku berakhir. Aku harus balik ke Bandung.

Malam sebelum berangkat, dia datang ke rumah (mama lagi keluar kota). Kami melakukannya terakhir kali di kamar lamaku—perlahan, penuh ciuman, seperti nggak mau lepas.

Paginya dia menyelipkan sesuatu ke tasku: legging abu-abu yang dia pakai hari pertama—masih ada aroma tubuhnya.

“Setiap kangen, buka ini. Dan setiap libur, tante punya slot privat kosong buat kamu.”

Aku kuliah online semester depan.

Alasannya? “Jaringan di Jakarta lebih stabil.”

Mama cuma geleng-geleng kepala.

Dia nggak tahu kalau setiap weekend aku “yoga intensif” selama 6 jam non-stop sama Tante Sasha—dan nilai IPK-ku malah naik drastis.

Tubuh sehat, pikiran tenang, dan… selalu pulang dengan badan pegal yang sangat menyenangkan.

TAMAT. 🧘‍♀️🔥

Leave a Comment