Verification: a25133a91a4eb45a

Tante Kantor Baru Ku

Tante Kantor Baru Ku

Tante Kantor Baru Ku
Namanya Bu Shinta.

Kepala Divisi HRD di perusahaan tempat aku magang semester akhir. Umur 42 tahun, sudah punya dua anak kuliah, suami direktur di perusahaan lain. Tubuhnya? Masih keterlaluan. Tinggi 168 cm, berat 53 kg, dada 36D asli (aku tahu karena pernah lihat bekas operasi caesar-nya), pinggang kecil, bokong bulat kencang karena rutin pole dance di studio privat.

Hari pertama magang, dia yang interview aku sendirian di ruang meeting. Rok pensil ketat warna krem, kemeja putih satu kancing terbuka terlalu banyak. Sepanjang interview dia terus menatapku lama, tersenyum kecil tiap aku menelan ludah.

“Magang tiga bulan ya, Nak… Nanti tante ajarin satu-satu,” katanya sambil menggigit ujung pulpen.

Aku sudah tahu ini tidak akan biasa.

Hari ketiga, jam 4 sore, kantor mulai sepi. Dia kirim WA:

[Bu Shinta]
Pantry lantai 12 sekarang. Bawa flashdisk biru yang di meja tante.

Aku naik lift dengan jantungan. Pantry kosong. Lampu neon mati separuh, hanya lampu emergency yang menyala redup. Begitu pintu terbuka, Bu Shinta sudah berdiri di depan vending machine, rok sudah naik sampai pinggang, celana dalam hitam lace diturunkan sampai lutut.

“Tutup pintu. Kunci,” perintahnya tenang.

Aku masih bengong. Dia mendekat, langsung meremas selangkanganku.

“Besaran ya magang tante… dari hari pertama tante udah penasaran.”

Dalam hitungan detik dia sudah berlutut, membuka resletingku, dan langsung menelan penisku sampai pangkal. Tenggorokannya terlatih—dia bisa deep throat tanpa tersedak sama sekali. Aku cuma bisa pegang kepalanya yang berponi rapi sambil mengerang pelan.

Tiga menit kemudian dia berdiri, membalikkan badan, tangan menempel di meja pantry, bokong terdorong ke belakang.

“Masukin sekarang. Tante udah basah dari tadi pagi mikirin kamu.”

Aku masuk satu dorongan. Dia langsung mengerang keras—untung lantai 12 kosong. Vaginanya panas, ketat, dan sangat licin. Dia sudah siap dari lama.

“Pelan-pelan dulu… nanti keras kalau udah deket keluar…”

Kami melakukannya di pantry selama 25 menit. Aku keluar di dalamnya dua kali—dia minta creampie, katanya lebih enak rasanya pulang ke rumah bawa “oleh-oleh” anak magang. Setelah selesai dia cuma merapikan rok, mencium pipiku, dan berkata:

“Besok jam yang sama. Jangan telat.”

Dan itu jadi rutinitas.

Setiap hari kerja, jam 4–5 sore, pantry lantai 12 jadi milik kami.

Kadang dia pakai rok pendek tanpa celana dalam langsung. Kadang dia suruh aku datang lebih awal, lalu dia blowjob di bawah meja rapat sebelum orang lain masuk. Pernah satu kali dia pakai remote vibrator seharian—aku yang pegang remotnya. Pas jam 4 dia sudah lemes, cairan menetes sampai lantai, cuma bisa selonjor di sofa pantry sambil aku naik di atasnya dan pompa sampai dia squirt tiga kali berturut-turut.

Puncaknya di bulan kedua.

Kantor ada acara team building ke villa Anyer dua hari satu malam. Semua karyawan ikut, termasuk Bu Shinta dan aku. Malam pertama, setelah semua mabuk dan tidur, dia kirim WA:

[Bu Shinta]
Kamar 204. Sekarang.

Aku keluar kamar diam-diam. Kamarnya di ujung koridor. Begitu masuk, dia langsung menarikku ke dalam—telanjang bulat, cuma pakai stiletto merah dan kalung berlian suaminya.

Malam itu kami tidak tidur sama sekali.

Ronde pertama di ranjang—dia minta posisi prone bone, bokong diangkat tinggi, aku dari belakang sambil menjambak rambutnya.

Ronde kedua di balkon—dia menempel di pagar kayu, laut gelap di depan, aku masuk dari belakang sambil tutup mulutnya biar nggak kebanyakan jerit.

Ronde ketiga di bathtub jacuzzi—dia naik di atasku, air berdesir-desir keluar, payudaranya bergoyang liar setiap kali dia naik-turun.

Ronde keempat di cermin besar—dia berdiri membungkuk, tangan di cermin, aku dari belakang sambil kami sama-sama lihat betapa dalamnya aku masuk.

Ronde kelima pagi-pagi sebelum orang lain bangun—dia bangunkan aku dengan mulut, lalu minta anal untuk pertama kalinya. Awalnya susah, tapi setelah pelan-pelan masuk semua, dia malah semakin gila, minta aku keluar di dalam sana juga.

Sepanjang perjalanan pulang di bus, dia duduk di sebelahku, pura-pura tidur. Tangan kirinya masuk ke selimut tipis yang menutupi pangkuanku, mengocok aku pelan sampai aku keluar di tisu yang dia siapkan. Tidak ada yang tahu.

Magangku selesai bulan depan.

Tapi kemarin dia sudah menawarkan: kontrak kerja tetap, gaji dua kali lipat dari pasar, dengan satu syarat tak tertulis—aku tetap jadi “asisten pribadi” yang setiap hari mengisi dia sampai penuh.

Aku sudah tanda tangan kontraknya.

Dan setiap kali HRD kirim email pengumuman karyawan baru, aku cuma tersenyum sendiri.

Lantai 12 masih sepi setiap jam 4 sore.

Dan Bu Shinta masih pakai rok pensil krem yang sama seperti hari pertama.

TAMAT. 💼🔥

Leave a Comment