Verification: a25133a91a4eb45a

Hujan Dua Hari Dua Malam di Villa Lembang

Hujan Dua Hari Dua Malam di Villa Lembang

Aku (Arga, 19 tahun) dan Tante Mira (35 tahun) sebenarnya tidak terlalu dekat. Dia adalah kakak sepupu mama yang kaya raya, punya villa besar di Lembang yang jarang dipakai. Suaminya kerja di luar negeri, anaknya kuliah di Australia. Jadi villa itu selalu sepi.

Bulan Desember lalu, aku diminta mama mengantar dokumen penting ke Tante Mira yang sedang “libur sendirian” di villa. Katanya cuma sebentar, tapi begitu sampai, hujan deras mengguyur tanpa henti, jalan longsor, listrik mati total, sinyal hilang. Aku terjebak dua hari dua malam bersama Tante Mira—hanya kami berdua di rumah besar bergaya Skandinavia dengan perapian kayu dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kabut tebal di luar.

Malam pertama.

Listrik mati jam tujuh malam. Hanya lilin dan perapian yang menyala. Tante Mira keluar dari kamarnya pakai kimono satin merah marun yang pendek sekali, nyaris tak menutupi paha atas. Rambutnya tergerai basah, baru keramas. Tubuhnya… aku baru sadar betapa sintalnya dia: bahu kecil, payudara besar yang menonjol di balik kain tipis, pinggang ramping, dan bokong yang penuh—semua terlihat jelas karena kimono itu basah di beberapa bagian.

“Listrik bisa mati sampai besok pagi, kata tetangga,” katanya sambil menuang red wine ke dua gelas besar. “Kamu mau tidur di kamar tamu atau… nemenin tante di sini aja? Takut gelap katanya.”

Aku tahu itu cuma alasan. Tapi aku mengangguk.

Kami duduk di sofa kulit besar di depan perapian. Wine kedua, ketiga… pembicaraan semakin dalam. Dia cerita tentang pernikahan yang dingin, suami yang jarang pulang, kebutuhan yang tak pernah terpenuhi bertahun-tahun. Aku cuma mendengarkan, tapi mataku terus melirik belahan kimono yang semakin terbuka setiap kali dia mengangkat gelas.

Jam sebelas, dia tiba-tiba berdiri, membuka ikatan kimono perlahan. Kain satin itu melorot ke lantai.

Di bawahnya tidak ada apa-apa. Hanya tubuh telanjang yang diterangi api jingga.

Payudaranya besar, berat, sedikit menggantung alami, putingnya merah muda pucat dan sudah mengeras. Perutnya rata dengan garis halus bekas melahirkan yang malah membuatnya semakin seksi. Di bawah sana… dicukur bersih, bibir vaginanya sedikit terbuka karena dia sudah basah.

“Arga,” suaranya gemetar tapi penuh kepastian, “tante udah lama banget nggak disentuh. Kalau kamu nggak mau, bilang sekarang. Kalau kamu mau… tante serahkan semuanya malam ini.”

Aku tidak bisa bicara. Aku cuma berdiri, mendekatinya, dan menciumnya—keras, lapar, seperti orang yang baru keluar dari penjara bertahun-tahun.

Kami jatuh ke karpet tebal di depan perapian. Aku langsung mengulum payudaranya bergantian, menggigit pelan putingnya sampai dia mengerang keras. Tangannya membuka celanaku dengan tergesa, mengeluarkan penisku yang sudah berdiri tegak dan berdenyut.

“Ya Tuhan… gede banget… tante takut nggak muat…”

Dia mendorongku telentang, lalu naik ke atas wajahku. Vaginanya langsung menempel di mulutku—panas, basah, beraroma manis. Aku menjilat rakus, menghisap klitorisnya, memasukkan lidah dalam-dalam. Dia menggoyang pinggulnya, mengendarai wajahku seperti kuda, payudaranya bergoyang liar. Dalam lima menit dia orgasme pertama—cairannya banyak sekali, mengalir ke leherku.

Dia turun, menciumku, menjilat cairannya sendiri dari bibirku.

“Sekarang gantian tante yang puasin kamu.”

Dia berlutut di antara kakiku, memegang penisku dengan kedua tangan, lalu mulai menjilat dari bawah ke atas—lambat, basah, mata menatapku penuh nafsu. Lalu dia menelan seluruhnya sampai pangkal, tenggorokannya berdenyut menjepitku. Aku hampir keluar, tapi dia berhenti, tersenyum jahat.

“Belum boleh keluar. Malam masih panjang.”

Dia menarikku berdiri, membawaku ke kaca besar yang memanjang dari lantai sampai langit-langit. Dia menempelkan dada dan telapak tangannya ke kaca dingin, bokongnya terdorong ke belakang.

“Dari belakang… keras… tante mau merasa penuh.”

Aku memegang pinggulnya, mengarahkan penisku, lalu mendorong masuk satu kali sampai habis. Dia menjerit—campuran sakit dan nikmat. Vaginanya sangat ketat, seperti belum pernah dipakai bertahun-tahun. Aku mulai memompa, pelan dulu, lalu semakin cepat. Kaca bergetar setiap kali pinggulku menghantam bokongnya. Kami bisa melihat pantulan diri kami sendiri—wajah-wajah penuh nafsu, tubuh berkeringat, payudaranya berguncang hebat.

Dia orgasme kedua, ketiga, keempat—setiap kali semakin keras, cairannya menetes ke lantai kayu. Aku masih bertahan. Dia menoleh, mata berkaca-kaca.

“Di sofa… tante mau lihat kamu di atas.”

Kami pindah lagi. Kali ini dia berbaring telentang, kaki terbuka lebar-lebar. Aku masuk lagi, kali ini lebih dalam karena posisinya. Kaki Tante Mira aku angkat sampai bahunya, posisi deep stick. Setiap tusukan membuatnya menjerit kecil. Aku mempercepat, merasakan akhir sudah dekat.

“Di dalam… semua di dalam… isi tante…”

Aku meledak—rasanya seperti tidak pernah berhenti. Sperma terasa keluar berulang-ulang, memenuhi sampai tumpah ke luar setiap kali aku tarik mundur. Dia orgasme lagi bersamaan, kakinya menggigil, vaginanya memeras habis sisa-sisaku.

Kami ambruk, napas tersengal. Tapi itu baru ronde pertama.

Malam itu kami tidak tidur sama sekali.

Ronde kedua di bathtub jacuzzi yang masih ada air hangatnya dari sebelum listrik mati. Dia naik di atasku, air berdesir keluar setiap kali dia naik-turun.

Ronde ketiga di dapur—dia duduk di meja marmer dingin, kaki melingkar di pinggangku, kami melakukannya sambil minum wine langsung dari botol.

Ronde keempat di tangga kayu menuju lantai dua—dia di anak tangga lebih tinggi, aku berdiri di bawah, masuk dari depan sambil memandang wajahnya yang penuh kenikmatan.

Paginya hujan masih belum reda.

Kami bangun telanjang di sofa, tubuh penuh bekas cupangan dan gigitan. Cahaya abu-abu masuk dari jendela besar. Dia tersenyum, mengelus penisku yang langsung mengeras lagi.

“Masih ada satu hari satu malam lagi, Ga…”

Hari kedua bahkan lebih gila.

Pagi di balkon tertutup kaca—dia menempel di kaca, aku dari belakang, kabut tebal di luar membuat kami merasa seperti satu-satunya manusia di dunia.

Siang di ruang yoga—dia memakai legging ketat yang aku sobek bagian selangkangannya, lalu kami melakukannya di atas matras sambil dia pose downward dog.

Malam harinya, setelah listrik hidup kembali, dia menyalakan semua lampu di kamar utama yang penuh cermin di langit-langit. Kami melakukannya di ranjang besar selama tiga jam non-stop—berbagai posisi, mainan yang dia ambil dari laci rahasia (vibrator, handcuff, blindfold), sampai aku keluar tiga kali di dalamnya lagi, dan dia entah berapa kali orgasme sampai suaranya serak.

Ketika akhirnya hujan reda dan jalan dibuka sore hari ketiga, kami berpisah di teras villa. Dia memelukku lama, mencium leherku.

“Setiap hujan deras di Lembang, villa ini selalu kosong. Kamu tahu kuncinya di mana.”

Aku pulang ke Jakarta dengan badan remuk, bibir bengkak, punggung penuh goresan kuku… dan ponsel penuh foto dan video yang Tante Mira kirim malam itu—dengan pesan singkat:

“Musim hujan masih panjang, sayang. Tante tunggu badai berikutnya.”

Aku tahu, aku pasti akan sering “terjebak hujan” di Lembang mulai sekarang.

TAMAT. 🌧️🔥🔥🔥

Leave a Comment